twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

Setiap saat disadari atau tidak, disengaja atau tidak, berbagai permasalahan datang dan tersimpan dalam hati. Terkadang membuat dada sesak dan kepala penat. Mungkin permasalahan yang Anda hadapi mirip atau pernah dialami rekan yang lain. Melalui blog konsultasi psikologi ini diharapkan Anda menemukan jawaban yang menjadi solusi atau pertimbangan dalam menyelesaikan permasalahan yang Anda hadapi.

Konsultasi Psikologi Update:

Tulis Topik Permasalahan Anda

Tampilkan postingan dengan label Psikologi Anak Kebutuhan Khusus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Anak Kebutuhan Khusus. Tampilkan semua postingan

Adikku Obsesif Kompulsif

Permasalahan :

Atas dorongan istri saya, saya menulis surat ini untuk minta saran tentang adik bungsu saya, laki-laki berusia 18 tahun. Ia memiliki segudang kebiasaan aneh yang dilakukannya sejak kecil tetapi akhir-akhir ini semakin parah saja. Adik saya itu sifatnya sangat pendiam dan pemalu, jarang bicara dan tidak suka bergaul. Ia senangnya berdiam diri di rumah atau mengurung diri di kamar.

Yang amat aneh, ia terlalu menjaga kerapian dan kebersihan dalam segala hal, terutama yang menyangkut dirinya yaitu pakaian, meja belajar dan tempat tidurnya. Semua harus bersih dan tertata rapi. Ia selalu curiga ada kuman di badannya, sehingga sering mandi berulang-ulang, bisa delapan sampai sepuluh kali sehari. Belum lagi kalau mau makan, cuci tangannya itu, bisa setengah jam sendiri. Sampai-sampai wastafel dan sabunnya pun dicucinya berulang-ulang. Ia selalu menyetrika kembali pakaian yang akan dipakainya, walaupun sudah licin disetrika pembantu. Baju yang habis dipakainya selalu ia lipat kembali dengan hati-hati, berulang-ulang sampai ia yakin sudah rapi betul, hanya untuk diletakkan di keranjang cucian. Sering ketika sudah siap berangkat sekolah, tiba-tiba ia balik lagi masuk ke dalam rumah untuk cuci tangan, juga membuka kembali sepatunya karena mau cuci kaki lagi. Akibatnya ia sering terlambat ke sekolah dan mendapat peringatan dari gurunya. Nilai-nilai raportnya pun semakin menurun, karena ia jarang belajar. Gimana mau belajar, lha wong waktunya seharian habis untuk ritualnya yang aneh-aneh dan tidak berguna itu. Kadang ia baru selesai mandi malam pukul 10 malam, setelah sesorean sibuk mengelap-ngelap meja belajarnya berulang-ulang, menggeser-geser kursi dan menata buku-bukunya. Semuanya harus tersusun rapi. Sudah rapi pun masih disusun-susun terus. Seringkali, karena jengkel dan tak sabar, ayah kami membentak dan memarahinya. Bukannya berhenti,adik saya justru semakin menjadi-jadi kelakuannya. Apakah adik saya menderita gangguan jiwa mbak? apa nama penyakitnya ini, apa penyebabnya dan bagaimana cara menyembuhkannya?

****************


Jawaban :
Tentu membingungkan dan sulit sekali ya menghadapi keanehan-keanehan adik anda yang berlangsung setiap hari. Bisa dimengerti bahwa seluruh anggota keluarga yang lain terkadang menjadi pusing bahkan jengkel dan bisa-bisa frustrasi melihat berbagai kesibukan dan ritual yang dilakukannya. Namun yang terutama dibutuhkan dalam menghadapi kasus semacam ini justru pengertian dan kesabaran Anda beserta seluruh anggota keluarga yang lain. Dalam psikologi, perilaku adik Anda tergolong obsesif kompulsif. Adik anda tampaknya menderita gangguan jiwa neurotis yang berbentuk pikiran yang muncul berulang-ulang dan terus-menerus (obsesi), disertai dorongan yang tak dapat dikendalikan untuk melakukan suatu perbuatan secara berulang-ulang dan terus-menerus pula (kompulsif). Orang lain yang normal memang sering tak bisa memahami apa maksud dan tujuan dari perilaku tersebut.

Bentuk dari obsesif kompulsif bisa bermacam-macam. Pada adik Anda, pikiran obsesifnya adalah agar dirinya selalu dalam keadaan bersih dan rapi. Pikiran-pikiran ini terus mendominasi dirinya, dan tampil dalam bentuk aktivitas-aktivitas mencuci tangan, mandi, mengelap dan mengatur-atur barang-barang tak henti-hentinya. Bukan hanya keluarga dan orang-orang di sekitarnya yang terganggu, adik anda pun sebetulnya menyadari bahwa rangkaian kebiasaannya tersebut tidak masuk akal, menghabiskan waktunya dan menghambat dirinya untuk melakukan hal-hal lain yang lebih berguna, namun ia tak mampu menghentikannya karena pikiran-pikiran obsesifnya menguasai dirinya.

Di satu sisi, perilaku kompulsifnya itu bisa meredakan ketegangan dan kegelisahan di dalam dirinya, sehingga ia merasa lebih tenang setelah mengerjakannya. Masalahnya, adik Anda jadi kehabisan waktu untuk melakukan aktivitas-aktivitas lain yang lebih produktif. Beberapa merupakan kegiatan sehari-hari yang wajar dan normal untuk merawat diri (mandi, berpakaian, makan, tidur), sebagian lainnya merupakan tuntutan dari lingkungan sosialnya yang harus ia penuhi untuk dapat hidup normal dan beradaptasi (bermain, bersosialisasi, belajar, dan sekolah). Karena terbelenggu dalam pikiran obsesif dan ritual kegiatan kompulsinya, adik anda seakan terjebak dalam lingkaran setan yang kian lama semakin parah. Seperti yang anda ceritakan, ia menjadi tertinggal pelajaran di sekolah, kehabisan waktu untuk belajar, sering terlambat, jarang menyelesaikan PR, mengerjakan soal-soal ujian tidak selesai, akibatnya nilai-nilainya jelek, sehingga ia sering mendapat teguran dari guru dan dimarahi oleh ayah di rumah. Kondisi ini menimbulkan stres dan frustrasi di dalam dirinya, yang selanjutnya justru memperkuat pikiran-pikiran obsesif dan perilaku kompulsifnya. Semakin ia merasa gelisah, stres, sedih dan frustrasi, ia akan semakin sering mengulang-ulang perilaku anehnya untuk meredakan ketegangannya, lalu giliran ayah yang tak sabar menjadi bertambah marah, sehingga adik Anda akan semakin sibuk dengan ritual-ritual anehnya itu dan seterusnya. Bisa Anda bayangkan, keadaan akan semakin buruk jika tak segera diatasi.

Adik Anda membutuhkan bantuan dan dukungan dari seluruh anggota keluarga untuk bisa sembuh dari penyakitnya. Oleh karena itu, tugas Anda sebagai kakak untuk selalu mengingatkan mereka agar bersabar dan mencoba memahami kondisi adik Anda. Terutama kepada ayah yang pemarah, perlu Anda himbau untuk mau berusaha menahan luapan emosinya, karena itu hanya akan memperparah kondisi si sakit. Agar lebih bisa memahami, sebaiknya seluruh anggota keluarga berusaha mencari akar penyebab munculnya gangguan yang dialami oleh adik Anda. Sebab, pasti ada sesuatu yang mendasari munculnya pikiran2 dan perilaku obsesif-kompusif itu.

Menurut Sigmun Freud dari kacamata psikoanalisa, gangguan obsesif-kompulsif disebabkan adanya tahapan perkembangan yang terhenti, yaitu pada suatu tahapan yang dinamakan fase anal. Pada penyakit ini, penderita berusaha amat keras mengontrol dorongan-dorongan primitifnya dengan reaksi yang berlebihan, sehingga pikirannya menjadi terus-menerus terpaku pada kebersihan dan kerapian yang berlebihan. Hal ini sebetulnya untuk menutupi atau mengingkari kebutuhan primitif seperti mengompol, atau untuk menghapus keinginan-keinginan yang terlarang, misalnya rasa ingin memberontak terhadap orangtua yang otoriter, karena takut berdosa dan takut dimarahi lalu ditutup-tutupi dengan sikap diam dan kesibukan kompulsifnya tersebut.

Ahli lain yaitu Alfred Adler mengemukakan pendapat yang senada, yaitu bahwa gangguan ini muncul jika kebutuhan anak untuk merasa dirinya mampu atau kompeten dihambat oleh sikap orangtua yang terlalu mengecilkan atau terlalu dominan terhadap anak. Akibatnya, anak merasa tidak berdaya, tidak bisa apa-apa, dan merasa inferior. Akhirnya, anak cuma berpegang pada pola tingkah laku sederhana, yang dapat dan aman dilakukan. Pada adik anda, perilaku yang dirasanya aman dan mampu ia kerjakan antara lain: terus-menerus mengelap dan merapikan meja belajarnya serta membereskan tempat tidurnya.

Memang, gangguan obsesif kompulsif cukup sulit disembuhkan. Adik Anda membutuhkan bantuan psikiater atau psikolog klinis yang mampu memberikan terapi yang tepat untuk menghilangkan gangguan tersebut. Anda bisa datang ke psikiater atau ke bagian klinis fakultas psikologi, namun penyembuhan adik Anda membutuhkan proses yang cukup lama, sehingga Anda dan keluarga harus sabar, penuh tekad dan telaten mendampingi adik Anda selama menjalani proses terapi.


Maya Harry, Psi
Sumber : Wanita Indonesia

Anakku Hiperaktif

Permasalahan :

Singkat saja, anakku sepertinya hiperaktif deh… ini pendapat dari gurunya di sekolah (TK B) yang menganjurkan saya untuk memeriksakan anak saya ke psikiater atau psikolog. Sejak mulai bersekolah, anak saya Ryan tidak mau diam di kelas. Selalu saja ada benda-benda yang direbut, ditumpahkan, dibuang ke lantai. Dia berlari-lari keliling kelas mengganggu teman-temannya yang sedang belajar. Jika dibujuk atau dilarang oleh gurunya, ia akan menangis dan mengamuk. Teman-temannya takut dan enggan bermain dengannya, sehingga ia dijuluki anak nakal. Saya memang kewalahan mengasuhnya di rumah. Saya pikir, ia akan bisa lebih tenang dan belajar untuk bisa lebih berkonsentrasi di sekolah. Tapi nyatanya sampai saat ini belum ada kemajuan yang menggembirakan. Apakah anak saya benar-benar hiperaktif? Apa ciri-ciri anak hiperaktif dan bagaimana cara yang tepat untuk mendidiknya agar bisa mengurangi hiperaktivitasnya? Terima kasih atas jawaban.


***************



Jawaban :

Mbak Tina, hati-hati dengan istilah hiperaktif. Sekarang ini ada kecenderungan orang tua terlalu mudah mencap anaknya hiperaktif, padahal belum tentu benar. Bisa jadi, si anak hanya merupakan anak yang aktif dengan rasa ingin tahu dan minat eksplorasi yang besar, tetapi karena ia banyak bergerak dan ingin menjamah berbagai benda di sekelilingnya lantas dianggap anak hiperaktif. Istilah hiperaktivitas biasanya dikenakan terhadap anak dengan gerak fisik yang eksesif atau berlebihan, dengan pengertian di atas normal atau di atas rata-rata anak seusianya secara umum. Secara obyektif, orang tua dapat mengenali apakah anaknya tergolong hiperaktif atau tidak, yaitu dengan melihat jumlah/banyaknya dan derajat aktivitas anak. Jika aktivitas yang anak lakukan berlangsung terus-menerus namun seakan tidak sepenuhnya disadari oleh anak, serta berbeda dengan anak-anak lain yang sebaya (dalam kelompok umur dan jenis kelamin yang sama), maka orang tua bisa menduga kemungkinan adanya hiperaktivitas pada anaknya. Jika Anda merasa ragu-ragu, lakukan kunjungan ke sekolahnya dan amati ia ketika sedang berada di dalam kelas dan ketika ia sedang bermain bersama teman-temannya. Pendapat dari orang ketiga yang netral juga bisa menambah penilaian yang obyektif, jadi ada baiknya juga meminta pertolongan teman atau sahabat anda untuk meluangkan waktunya ikut bersama Anda mengobservasi anak di sekolah.

Konsep yang penting dari hiperaktivitas adalah, bahwa kondisi ini ditandai oleh adanya aktivitas yang tidak tepat (inappropriate) dan tidak terarah (undirected). Ini untuk membedakan anak hiperaktif dengan anak yang sangat aktif namun tingkah lakunya bertujuan dan produktif. Biasanya, orang tua dari anak yang hiperaktif sering menerima laporan atau keluhan dari guru bahwa si anak berlarian kemana-mana, tidak bisa diam, serta sering tidak menyelesaikan tugas-tugasnya di kelas. Namun, perlu anda ketahui pula bahwa anak normal yang berusia 2 sampai 3 tahun memang umumnya memiliki tingkat aktivitas fisik yang tinggi, karena usia tersebut adalah usia dimana rasa ingin tahu anak sangat besar, dibarengi dengan telah dicapainya kemampuan fisik dan gerak yang lebih baik sehingga anak bisa berjalan, berlari, menggapai berbagai benda yang menarik minatnya. Demikian juga anak yang sangat eksploratif serta anak-anak yang cerdas, biasanya juga dibarengi dengan gerak yang lebih aktif. Kematangan dan pertambahan usia seringkali dengan sendirinya mengurangi tingkat keaktifan anak, sehingga pada usia belasan tahun anak bisa lebih tenang. Namun, memang ada jenis-jenis hiperaktivitas dan gangguan konsentrasi yang menetap hingga usia dewasa.

Yang penting, ketahui dulu secara pasti apa penyebab hiperaktivitas anak. Orang tua bisa memeriksakan anak ke dokter anak atau psikolog, dimana anak akan menjalani serangkaian tes psikologis untuk mengetahui kondisinya. Evaluasi terhadap anak sebaiknya didapat melalui pendekatan yang multidisipliner agar lebih akurat, termasuk dengan menggali penyebab yang bersifat neurologis.

Apa yang dapat dilakukan oleh orang tua?
§ Berikan pujian terhadap perilaku yang tepat. Pada anak kecil, pujian langsung serta pemberian hadiah biasanya efektif. Jika anak bisa duduk tenang, memperhatikan, dan menyelesaikan tugasnya, katakan: “wah hebat, Ryan ternyata bisa mengerjakan tugas ini dengan hati-hati.” Atau, “aduh, manis sekali kamu bisa duduk tenang dan menyelesaikan tugasmu.”
  • Tentukan tujuan-tujuan harian yang spesifik dan berikan contohnya, misalnya: makan dengan tenang di meja makan. Jika anak berhasil melakukan itu, puji dia segera. Pemberian contoh dan pujian ini harus sering diulang.
  • Ciptakan struktur yang jelas di rumah. Anak harus tahu secara jelas apa yang diharapkan oleh orang tua. Tanpa perlu marah, anda bisa mengatakan: “Ryan, jangan meloncat-loncat nanti tugas menggambarnya tidak selesai.” Atau, “ayo Ryan, teruskan menggambarnya sampai selesai.”
  • Ajarkan anak untuk rileks. Katakan: “Ryan capek ya? Coba tenang dan tarik nafas dalam-dalam. Sambil istirahat begini, kamu boleh melihat ke luar jendela.”
  • Persiapkan anak sebelum melakukan sesuatu. Misalnya, sebelum masuk ke mal, katakan: “nanti di sana banyak orang dan berisik. Ryan tetap tenang ya, sama ibu.” Anda juga bisa mengatakan: “nanti di toko tidak boleh memegang barang-barang yang dipajang. Jadi, Ryan pegang mainan Ryan ini ya.”
  • Adakalanya anak harus duduk menunggu. Ia bisa melakukannya sambil melakukan aktivitas seperti mewarnai gambar, menyambung titik-titik menjadi sebuah gambar, atau membaca buku cerita baru yang menarik. Kuncinya adalah penggunaan strategi yang baik untuk mempersiapkan anak agar fokus kepada satu aktivitas selama waktu tertentu sehingga lama-kelamaan ia terbiasa.
  • Di rumah, distraksi dapat dikurangi dengan membantu anak mengatur kamarnya. Bersihkan meja belajarnya dari benda-benda lain yang mengganggu atau yang bisa menarik perhatiannya. Tempatkan mainannya di dalam kotak tertutup agar tidak terus-menerus terlihat oleh mata pada saat ia harus belajar.
  • Saudara kandung bisa berperan sebagai model yang dapat ditiru oleh anak. Tapi ingat, jangan membanding-bandingkan anak dengan kakak atau adiknya yang lebih baik. Biarkan anak mengamati sendiri dan meniru dalam suasana yang menyenangkan tanpa perlu dikatakan bahwa “si kakak/adik lebih baik dari kamu.”
  • Orang tua juga dapat memberi contoh melalui kata-kata, misalnya: “mama harus menyelesaikan ini dulu, baru setelah itu mama bisa istirahat…” atau, “wah.. kerjaan yang ini belum benar-benar selesai, jadi mama mau bereskan dulu.”
  • Untuk menyalurkan energi yang berlebihan, sediakan karung tinju dan matras di rumah yang dapat dipukul-pukul oleh anak sekaligus sambil berolahraga. Misalnya, selama 15 menit sambil menunggu makan malam, anak bisa berolahraga dengan berguling-guling di matras, atau berlatih tinju bersama ayah. Ini sekaligus berguna untuk melatih otot-otot, daya tahan dan kekuatannya.
  • Ajak anak melakukan tugas-tugas di rumah yang membutuhkan energi, misalnya menyapu, membersihkan kamar, mencuci mobil, menata buku-buku, dll.
  • Mendengarkan musik selama 15 menit merupakan salah satu metode relaksasi yang dapat dianjurkan kepada anak ketika beristirahat di sela-sela pekerjaannya.
  • Diskusikan secara rutin dengan guru di sekolah tentang kemajuan anak, agar orang tua dapat segera mengetahui jika kondisi hiperaktif anak telah berkurang.
  • Jika semua metode yang dilakukan orang tua masih kurang efektif, cari bantuan profesional yang dapat memberikan terapi relaksasi otot, latihan mengatasi stres, dan terapi melalui obat atau makanan yang dikontrol dengan tepat.


Maya Harry, Psi
Sumber : Wanita Indonesia

Anakku Menderita Epilepsi

babya6c28d.jpg

Permasalahan :

Saya Ibu (41 th) dari anak tunggal perempuan usia 12 tahun kelas 1 SMP. Sejak hampir satu tahun ini putri saya sering mengalami pingsan yang periode hampir setiap 2 minggu sekali. Malah diawal masuk SMP pernah hampir setiap hari. Setelah menjalani beberapa pemeriksaan CT Scan (normal) EEG ada kecenderungan epilepsi (walaupun 3 dokter spesialis syaraf yang saya datangi masih agak ragu akan diagnosenya), darah , jantung, paru-paru semuanya normal, tapi kesimpulan hasil pemeriksaan psikologisnya menunjukkan immaturitas kepribadian yang menyebabkan anak kurang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial.

Subyek sangat rendah toleransinya terhadap situasi yang menekan dan hasil tes bender menunjukkan adanya indikasi kelainan organik. Apa maksudnya? Apa ini ada indikasi bahwa putri kami stres? Bagaimana cara menumbuhkan rasa percaya dirinyA? Karena pernah kepada saya dia mengeluh/merasa dirinya bodoh, padahal IQ nya 107. Memang putri saya ini agak malas belajar dan kurang disiplin. Kepribadian putri saya sesuai hasil itu menunjukkan cukup terbuka tapi cenderung membatasi diri, sukar ditebak apa maunya dan mengarah mudah tersinggung, immature, emosi labil dan cenderung mudah kacau sedangkan pemahaman, verbal, logika dan abstraksi menunjukkan cukup baik.

Salah satu dokter syarafnya pernah akan merekomendasikan ke psikiater, apa bedanya dengan psikolog ya bu? Atas konsultasi yang Ibu berikan, kami ucapkan terima kasih.


Wassalam


***************



Jawaban :

Dear Ibu Henny, terima kasih atas kesabarannya menunggu jawaban konsultasi dari saya. Dari cerita Ibu, bisa saya simpulkan bahwa secara fisiologis dan dalam hal kemampuan intelektualnya ia normal (pemeriksaan darah, jantung, paru-paru normal, pemahaman verbal, logika dan abstraksi cukup baik). Namun, putri Ibu memiliki kecenderungan epilepsi yang kekambuhannya dipicu oleh kondisi stres psikis. Hal ini memang bisa terjadi pada anak-anak yang berkepribadian kurang matang (immature), dimana ia menjadi kurang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan sangat rendah toleransinya terhadap situasi yang menekan (sesuai hasil pemeriksaan psikologis terhadap putri Ibu). Pengalaman masuk SMP adalah salah satu pengalaman yang dirasa sangat menekan dan menimbulkan kecemasan besar bagi putri Ibu. Ia membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, untuk dapat merasa aman dan nyaman serta percaya diri. Itu sebabnya, kecenderungan epilepsi yang ada pada dirinya lalu muncul dalam bentuk serangan pingsan mendadak yang cukup sering, terutama di awal-awal masuk SMP.

Mengenai tes Bender, itu adalah salah satu tes psikologis untuk mengetahui adanya kelainan organik pada otak atau kelainan fungsi otak. Jadi, hasil tes Bender juga menguatkan diagnosa epilepsi yang diderita putri Ibu, dimana terdapat muatan listrik dan pelepasan yang berlebihan atau tidak terkontrol di sel-sel neuron otaknya, sehingga penerimaan serta pengiriman impuls dari otak ke bagian-bagian lain dalam tubuhnya terganggu.

Sedangkan untuk pertanyaan Ibu tentang psikiater dan psikolog, keduanya sama-sama mendalami masalah 'psikis' atau kejiwaan. Bedanya, psikiater adalah seorang dokter spesialis , dimana dalam penanganan pasien bisa menggunakan obat-obatan medis (misalnya : anti depresan, anti anxiety, obat kejang dsb). Sedangkan psikolog, berasal dari disiplin ilmu yang berbeda dari kedokteran dan metode penanganan client dilakukan dengan konsultasi, konseling, pemberian tes-tes psikologis atau bermacam-macam teknik terapi. Jadi, untuk membantu menegakkan diagnosa, psikologis bisa melakukan serangkaian wawancara, observasi dan tes untuk kemudian memberikan terapi yang sesuai. Namun apabila dalam prosesnya dibutuhkan pengobatan medis atau bahkan tindakan pembedahan misalnya, maka harus bekerja sama dengan psikiater, dokter ahli syaraf (neurolog), dsb. Dari sudut pandang psikologis, epilepsi memang bisa terkait atau menyebabkan perubahan emosi yang kompleks yang dapat mengubah perilaku dan kepribadian serta menghambat hubungan interpersonal. Anak menjadi sulit mengendalikan emosinya, mudah tersinggung, atau bisa menjadi kehilangan motivasi belajar di sekolah, kehilangan kepekaan terhadap lingkungan, menjadi egosentris atau menarik diri dari lingkungan sosialnya. Hal ini bisa menjadi lebih parah dengan adanya sikap-sikap yang keliru dari masyarakat, misalnya mengucilkan menganggap penyakit menular, dsb.

Yang terpenting, penderita epilepsi memang perlu ditangani sedini mungkin, sebab semakin lambat penangannya maka efek negatif yang dapat merusak syaraf otak akan semakin besar. Beberapa saran dari saya :

1. Pahami dan terima ketakutan atau kecemasannya. Penderita epilepsi biasanya takut tidak bisa sembuh, takut berenang, takut naik sepeda dan takut kumat di tempat umum lalu menjadi tontonan yang memalukan bagi orang-orang. Dengan sabar dan telaten, tumbuhkan rasa percaya diri putri ibu dengan menceritakan fakta-fakta yang sebenarnya tentang penyakit epilepsi yang dideritanya. Yang jelas, epilepsi tidak menular, bukan penyakit keturunan dan bukan keterbelakangan mental. Bahkan, fakta bahwa banyak orang ternama yang juga menderita epilepsi namun tetap bisa berkarya melebihi orang-orang normal perlu ibu sampaikan agar ia optimis dan lebih percaya diri dalam menjalani hidupnya.

2. Gali potensi dan bakat-bakatnya atau cari tahu kegiatan apa yang menjadi hobinya di waktu luang, lalu dorong putri Anda untuk menekuninya sehingga berbuah menjadi prestasi yang dapat dibanggakan. Dengan demikian, ia akan lebih percaya diri dan bahagia.

3. Sebisa mungkin, hindari situasi-situasi yang dapat menambah tekanan bagi anak dan persiapkan dirinya menghadapi berbagai situasi. Misalnya jika akan berkunjung ke suatu tempat yang baru, katakan bahwa nanti ia akan bertemu dengan di A, si B atau akan melakukan ini dan itu. Hindari juga kelelahan, kurang tidur, terlambat makan, kedinginan, atau terlalu memaksanya dalam belajar. Sebaiknya orang tua tidak menerapkan aturan disiplin yang kaku yang mudah menimbulkan kecemasan dan tekanan bagi anak-anak dengan kepribadian yang rentan. Lebih baik, beri semangat dan sesuaikan dengan kapasitas atau kesanggupan anak dalam belajar. Kepekaan dan kesigapan memberikan bantuan dalam belajar ketika anak membutuhkan juga amat diperlukan.

Wajar jika orangtua merasa cemas dan frustasi memikirkan masa depan anaknya yang mengidap epilepsi. Ibu tentu cemas membayangkan putri Ibu mendadak kejang-kejang dan dikucilkan oleh orang-orang dengan anggapan yang keliru tentang epilepsi. Namun Ibu harus optimis. Dengan bantuan pengobatan yang benar, banyak penderita epilepsi mampu hidup normal. Untuk menambah wawasan dan memenuhi kebutuhan akan informasi, bu Henny bisa bergabung di perhimpunan orang tua penyandang epilepsi yang ada di berbagai daerah.

4. Usahakan tetap tenang dan sigap ketika anak kena serangan mendadak. Tentunya bu Henny sudah mengetahui langkah-langkah yang perlu (dan yang tak boleh) dilakukan ketika putri Ibu menghadapi serangan kejang. Persiapkan diri dengan menyediakan obat-obatan di tempat yang mudah terlihat/terjangkau dan simpan nomer-nomer telepon penting/darurat, seperti rumah sakit atau dokter.

Jika putri Ibu minum obat-obatan antiepilepsi, konsultasikan selalu dengan dokter yang merawatnya, sebab ada obat-obatan penenang yang memiliki efek samping melambatkan proses berfikir. Karena munculnya pada usia sekolah, maka obat-obatan yang keliru bisa mengganggu kemampuan dan prestasi belajarnya.

Tentunya, apa yang saya sampaikan di sini belum cukup untuk menjawab semua pertanyaan Ibu. Langkah-langkah yang lebih detil dan terencana perlu Ibu konsultasikan langsung dengan psikiater atau psikolog yang berpraktek di kota Ibu. Dengan kesabaran dan kasih sayang Ibu dalam mendampingi dan memberinya semangat untuk melakukan berbagai upaya untuk sembuh, saya percaya putri Ibu dapat tumbuh dan berkembang normal seperti teman-temannya.


Maya Harry, Psi

Sumber : Wanita Indonesia

Berbicara Sendiri atau dengan Bayangan di Kaca

Permasalahan :

Saya berusia 27 tahun dan mempunyai kebiasaan aneh, yaitu suka berbicara sendiri atau berbicara dengan bayangan saya di kaca seolah-olah saya tidak sendirian di kamar itu. Kadang-kadang saya berkhayal sedang mengobrol dengan orang lain, misalnya dengan sepupu atau teman-teman saya, atau orang lain, atau kadang-kadang saya berkhayal mempunyai saudara kembar. Kebiasaan ini mulai tahun 1988.

Terus terang, sebenarnya saya mempunyai lumayan banyak teman untuk mengobrol tetapi kadang-kadang saya berpikir, mereka pasti memiliki urusan masing-masing, jadi lebih baik saya berbicara sendiri, seolah-olah sedang mengobrol dengan hatinurani saya. Ini saya lakukan tidak di dalam hati, saya ungkapkan sehingga seolah-olah saya sedang berbicara dengan orang lain.

Biasanya setelah berbicara sendiri, kadang-kadang saya menemukan penyelesaian dari masalah yang sedang saya hadapi. Yang ingin saya tanyakan, apakah jiwa saya tergangu, apakah kebiasaan ini membahayakan? Bagaimana mengatasinya?


***************



Jawaban:

Kebiasaan berbicara sendiri merupakan jalan keluar yang tidak wajar untuk memperoleh jawaban-jawaban tentang kehidupan, karena berlawanan dengan hukum alam bahwa manusia adalah mahluk sosial. Jadi kebutuhan Anda untuk bersosialisasi sebaiknya dilakukan dalam berhubungan dengan orang lain. Setidaknya bicaralah dengan siapapun yang ada di rumah, kalalu perlu dengan pembantu untuk mendapatkan masukan dari permasalahan-permasalahan.
Yang membuat keputusan Anda sendiri. Dikahwatirkan kebiasaan ini sulit untuk di atasi karena sangat mudah dilakukan, tidak perlu ada usaha untuk mencari-cari dan menjalin hubungan dengan orang lain. Hukum alam lainnya adalah ada kalanya kita menerima perhatian, saran dan kasih dari orang lain tetapi kita juga perlu memberi perhatian, kasih dan waktu untuk orang lain.
Kalau bicara sendiri Anda hanya putar-putar di situ dan lama-lama tidak akan memuaskan lagi, sehingga akan meningkat lagi menjadi penarikkan diri secara total. Mantapkan diri, dekatilah seseorang atau beberapa untuk curhat (curahan hati), belajarlah dari pengalaman hidup mereka. Nanti dengan pendewasaan dan penambahan perbekalan melalui pengalaman pribadi serta orang lain, dan bacaan yang mengandung kearifan, Anda akan dapat membuat keputusan hidup yang lebih baik untuk evolusi diri dalam kehidupan ini. Selamat berinteraksi!



Pamugari Widyastuti
Sumber : Kompas Cybers Media

Apa Itu Flashcard ?

Permasalahan :

Sekarang ini lagi trend mengajar anak bayi membaca dengan metode kartu-kartu bergambar yang dinamai flashcard. Mohon penjelasan mengenai hal itu, apa keuntungan dan kelemahannya. Sebab saya saat ini mempunyai bayi usia 7 bulan yang belum mulai saya ajarkan membaca. Kata teman, saya terlambat mengajar bayi mengenal huruf, membaca dan berhitung. Seharusnya mulai dari usia 4 bulan. Masa sih?

Saya belum yakin dan takut akibatnya justru tidak baik bagi anak jika ia terlalu cepat dipaksa belajar membaca. Apa memang sudah waktunya, atau ada penelitian terbaru yang mendukung hal itu? Sebelumnya kan dikatakan bahwa dunia anak adalah dunia bermain? Di lain pihak, saya juga jadi khawatir anak saya nantinya akan tertinggal jika ia sudah sekolah. Masalahnya, beberapa teman saya yang juga mempunyai anak batita sudah mulai mengajarkan anaknya membaca dan berhitung. Alasan mereka, TK dan SD jaman sekarang sudah mengharuskan siswanya bisa membaca dan menulis sejak awal. Apa nggak kecepetan ya, bu? Apa yang sebaiknya saya lakukan? Saya tak ingin terlalu memaksa anak saya belajar, tapi juga tak ingin ia nantinya tertinggal dari teman-temannya dan tidak lulus tes masuk TK/SD.


***************



Jawaban :
Mbak Mirna, memang betul bahwa masa anak-anak adalah masa bermain, sehingga belum saatnya membebani mereka dengan aktivitas belajar yang berat dan serius. Mengacu kepada teori psikologi perkembangan dari Jean Piaget yang selama ini menjadi rujukan utama kurikulum pendidikan TK, kemampuan otak anak-anak usia 7 tahun ke bawah belum mampu menerima beban pelajaran membaca, menulis, dan berhitung yang disajikan secara formal dan terstruktur. Artinya, seorang anak balita bisa saja mulai diperkenalkan dengan angka dan huruf, asalkan diajarkan melalui permainan atau aktivitas-aktivitas yang menyenangkan sesuai dengan tingkatan usianya. Itu sebabnya, hampir semua TK sekarang sudah mulai memasukkan pengenalan huruf dan angka dalam kurikulumnya, yang dirancang dalam bentuk permainan, nyanyian, gambar-gambar menarik dan lain sebagainya. Sehingga anak berminat dan tak merasa terbebani.

Sekarang ini memang terlihat kecenderungan anak semakin dini diajar membaca, menulis, dan berhitung, karena adanya kekhawatiran orang tua bahwa anaknya akan tertinggal atau tidak mampu mengikuti pelajaran di sekolahnya nanti jika tidak dipersiapkan sejak dini. Akibatnya, banyak orang tua yang ”memaksa” anaknya belajar membaca, menulis dan berhitung dan kemudian dikembangkanlah berbagai permainan, alat atau metode belajar untuk anak-anak usia dini.

Apa itu flashcard? Flashcard adalah kartu-kartu bergambar yang dilengkapi kata-kata, yang diperkenalkan oleh Glenn Doman, seorang dokter ahli bedah otak dari Philadelphia, Pennsylvania. Gambar-gambar pada flashcard dikelompok-kelompokkan antara lain: seri binatang, buah-buahan, pakaian, warna, bentuk-bentuk angka, dsb. Kartu-kartu tersebut dimainkan dengan cara diperlihatkan kepada anak dan dibacakan secara cepat, hanya dalam waktu 1 detik untuk masing-masing kartu. Tujuan dari metode itu adalah melatih kemampuan otak kanan untuk mengingat gambar dan kata-kata, sehingga perbendaharaan kata dan kemampuan membaca anak bisa dilatih dan ditingkatkan sejak usia dini.

Flashcard ini merupakan terobosan baru di bidang metode pengajaran membaca dengan mendayagunakan kemampuan otak kanan untuk mengingat. Namun, sebagaimana umumnya metode-metode baru, metode ini juga mendatangkan kritik dan tanda tanya dari masyarakat maupun profesional di bidang pendidikan dan perkembangan anak, bahkan ada yang menganggapnya mustahil. Penyebabnya, dasar dari metode flashcard adalah melatih anak menghafal asosiasi antara gambar dan kata-kata, sehingga ketika ia melihat kata-kata itu lagi di kemudian hari maka ia akan mengingat dan dapat mengucapkannya. Inilah yang disebut ”membaca”. Namun bila anak melihat kata-kata baru, ia tak dapat mengucapkannya karena belum pernah diperkenalkan sebelumnya.

Menurut saya, kartu-kartu flashcard dapat diberikan kepada anak sebagai sebuah permainan mengenal huruf dan kata-kata. Gambar-gambarnya yang menarik dengan warna-warni menyolok akan disukai bayi dan anak-anak, sehingga ibu bisa mengajak mereka bergembira, bermain dan belajar dalam cara yang sederhana. Tak perlu menargetkan hasil yang muluk-muluk atau memaksa anak untuk menghafal sekian kata dalam sehari, misalnya. Apalagi sampai membanding-bandingkan dengan bayi atau anak-anak lain seusianya yang sudah lebih maju kemampuan belajarnya. Biarkan saja anak berkembang dan belajar dalam temponya sendiri dan mengikuti kematangan fungsi-fungsi otaknya masing-masing, sebab setiap anak berbeda.

Jangan lupa mbak, bayi dan anak-anak juga bisa merasa bosan. Jadi, jangan pernah memaksa anak belajar atau bermain permainan yang itu-itu saja. Jadi, berikan permainan-permainan yang lain yang juga menjadi kegemaran anak, atau biarkan ia memilih sendiri aktivitas yang disukainya bersama ibunya. Misalnya, bayi akan senang jika ibunya membacakan buku-buku cerita lucu dengan nada suara yang menarik. Jangan lupa, tunjukkan wajah ceria dan penuh senyum. Ciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan. Dengan begitu, anak akan senang belajar. Anda bisa juga mengenalkan angka, huruf dan kata-kata kepada anak dengan cara kreatif yang Anda ciptakan sendiri, misalnya melalui poster-poster bergambar yang ditempel di dinding kamarnya. Agar anak tertarik, gambar dan kata-kata atau angka haruslah berukuran cukup besar dan dalam warna-warni yang menyolok. Sampaikan hal-hal yang ingin anda ajarkan melalui nyanyian, tebak-tebakan atau sajak sederhana. Dengan begitu, anak akan menganggapnya sebagai permainan lucu yang menyenangkan.

Demikian jawaban saya untuk mbak Mirna. Boleh saja memperkenalkan huruf, angka dan kata-kata kepada si kecil, namun yang penting lakukan dengan cara-cara yang sesuai usianya. Dan jangan lupakan bahwa di samping terampil membaca, menulis dan berhitung, si kecil perlu mengembangkan keterampilan lainnya yang tak kalah penting, seperti keterampilan motorik, kemampuan komunikasi dan sosialisasi, kemandirian, pemahaman tentang baik dan buruk, dsb.



Maya Harry, Psi
Sumber : Wanita Indonesia

Belajar Menerima Kenyataan Pahit

Permasalahan:

Saya seorang Ibu muda yang baru saja melahirkan anak pertama, perempuan, melalui proses melahirkan yang sulit dan melelahkan. Sulit rasanya percaya pada kata-kata dokter yang membantu proses kelahiran anakku. Dia lahir normal dan sehat secara fisik, namun ada masalah dengan perkembangan mentalnya. Ya, anakku menderita keterbelakangan mental alias cacat mental. Hati ini menjerit, tak ingin mendengar apapun lagi. Rasanya tak mungkin hal ini terjadi pada diri saya. Mengapa harus saya? Semuanya seolah mimpi buruk, namun tak terelakkan. Saya harus menerima kenyataan pahit ini. Anak yang kukandung dan kulahirkan dengan susah payah, ternyata lahir cacat. Rasa sedih bercampur takut dan bingung memikirkan apa yang harus saya lakukan terhadapnya. Bagaimana saya harus menghadapi hal ini mbak?

Dengan kondisi anakku ini, saya harus berhenti bekerja. Saya yang semula seorang wanita karir dengan masa depan cerah, mendadak harus melepaskan ambisi itu. Berat sekali rasanya mbak. Terus terang, saya takut menghadapi hari-hari esok dengan beban seberat ini, harus tinggal di rumah sepanjang hari dan terikat mengurus anak yang cacat. Bukannya saya tak sayang anak, bagaimanapun ia darah daging kami sendiri. Saya cuma takut tak bisa melaksanakan tugas-tugas saya sebagai seorang ibu dengan baik. Tolong saya mbak, beri saran tentang apa yang harus saya lakukan. Bagaimana saya harus menghadapi hari esok?

***************



Jawaban :

Memang berat menghadapi kenyataan yang sangat bertentangan dengan harapan semula. Saya membayangkan Anda menikah, lalu mengandung dan menjalani masa-masa kehamilan dengan penuh kebahagiaan, menantikan kehadiran buah cinta dengan berbagai harapan dan rencana-rencana indah yang Anda persiapkan berdua dengan suami. Namun apa mau dikata, buah hati yang dinanti-nanti ternyata lahir dengan kondisi tak sesuai harapan, bahkan tak terbayangkan sama sekali sebelumnya. Reaksi Anda ketika pertama kali mendengar keterangan dokter merupakan reaksi yang wajar dan umum diperlihatkan oleh orang-orang yang mengalami kejadian serupa. Setelah sebelumnya baru saja melewati proses melahirkan yang sulit, melelahkan, menguras tenaga fisik maupun mental, lalu kemudian mendapati kenyataan bahwa ada yang tak beres dengan bayi yang sangat Anda nanti-nantikan. Siapapun yang mengalaminya, wajar jika menampilkan reaksi seperti Anda: berusaha menolak kenyataan, tidak mau mempercayai kata-kata dokter, ingin lari dari kenyataan pahit itu, serta kehilangan kendali terhadap emosi-emosi marah, sedih, kecewa, putus asa, dsb.

Namun, bagaimanapun itulah kenyataan yang harus Anda terima. Kenyataan yang mengubah hidup Anda dan mau tak mau Anda harus menyesuaikan diri dengannya. Rasanya berat ya? Memang, seringkali suatu peristiwa atau situasi yang menimpa terasa sangat berat dan seolah menenggelamkan diri kita ketika peristiwa itu baru saja terjadi. Dunia seolah kiamat, diri serasa demikian tak berdayanya dan entah sampai kapan bahkan tak mungkin rasanya bisa bangkit kembali. Tentunya, Anda mebutuhkan waktu untuk bisa menerima kenyataan. Untuk sejenak, boleh saja jika Anda ingin menyendiri. Hayati saja dan biarkan semua emosi negatif mengalir ke luar dari diri Anda. Setelah itu, cobalah berpikir dan tanyakan kepada diri sendiri, ”bagaimana saya akan merasakan situasi ini seminggu dari sekarang? Setahun? Sepuluh tahun lagi?”

Jawabannya seringkali akan menempatkan situasi yang Anda alami ke dalam perspektif yang berbeda. Anda akan menyadari bahwa kehadiran putri Anda yang terlahir tak sempurna, bukanlah akhir dunia. Ini yang dinamakan menempatkan suatu peristiwa ke dalam perspektif, sehingga peristiwa tersebut terasa lebih ringan dan dapat kita sikapi dengan tepat, obyektif, tidak terlalu emosional lagi.

Kedengarannya sulit bahkan mustahil? Kadang kita memang harus memaksakan diri untuk melakukan hal-hal yang terasa berat dan mustahil. Bagaimanapun Anda harus mencobanya. Anda harus bangkit, mengalahkan dan mengatasi rasa kecewa, sedih, marah, takut serta kebingungan Anda, sebab sebuah tanggung jawab besar yang dipercayakan Tuhan kepada Anda telah menanti. Putri kecil Anda yang tak berdaya saat ini sangat membutuhkan Anda, Ibunya.

Yang harus segera Anda lakukan adalah belajar menerima dan menyesuaikan diri dengan keadaan saat ini. Anda harus mulai membiasakan diri dan hidup dengan kenyataan bahwa putri Anda lahir dengan kelainan bawaan. Ini adalah kenyataan yang tak bisa dihindari atau diubah dan merupakan bagian dari hal-hal yang tak bisa kita kontrol sepenuhnya. Terhadap hal-hal demikian, mau tak mau Anda harus mengubah kebiasaan-kebiasaan, sikap-sikap, ambisi, harapan, serta keinginan-keinginan Anda agar lebih sesuai dengan keadaan dan mempermudah Anda menjalani hidup selanjutnya. Atasi rasa kecewa dan kesedihan Anda. Jangan biarkan perasaan-perasaan negatif itu menguasai hidup Anda. Terima kenyataan, namun teruslah hidup secara produktif.


Beberapa saran yang bisa Anda coba lakukan:
Putri Anda membutuhkan Anda, Ibunya, lebih daripada bayi-bayi lain yang lahir dengan kondisi lebih beruntung. Jadi, persiapkan diri Anda menjadi Ibu yang mampu memenuhi kebutuhannya.

Cari dukungan dan bantuan serta informasi tentang cara membesarkan anak dengan kebutuhan khusus, misalnya dengan bergabung di perkumpulan orang tua yang senasib seperti Anda, atau dengan mencari informasi di internet tentang pola asuh, fasilitas dan sekolah khusus untuk anak berkebutuhan khusus. Jangan terpaku pada kekurangannya, namun fokuslah pada apa yang masih dapat Anda lakukan untuk memaksimalkan potensi anak Anda untuk tumbuh dan berkembang.

Jangan menghadapi hal ini seorang diri atau berdua saja dengan suami. Dukungan sosial dari orang-orang terdekat amat Anda butuhkan. Perkuatlah hubungan Anda dan suami agar senantiasa kompak dalam menghadapi segala sesuatu dan bersama-sama membesarkan sang buah hati, serta binalah hubungan interpersonal yang dekat dengan keluarga dan sanak saudara. Mereka semua adalah sumber bantuan, penghibur, pemberi semangat dan tempat berbagi yang akan menjadikan Anda merasa tidak sendirian, sehingga lebih kuat dalam menjalani hidup ini.

Berkarir atau melepaskannya dan menjadi Ibu rumah tangga adalah sebuah pilihan. Dasarkan keputusan Anda pada kesadaran tentang prioritas terpenting dalam hidup Anda saat ini: apakah membesarkan putri yang sangat Anda cintai dan membutuhkan Anda, atau terus mengaktualisasikan diri di dalam pekerjaan Anda sebagai profesional. Semuanya terpulang kepada diri Anda sendiri, sebab segala sesuatu yang dipaksakan tak akan mendatangkan keikhlasan dan kebahagiaan. Pilihan menjadi Ibu seutuhnya bagi putri Anda, bisa jadi akan menjadi sebuah keputusan penting yang akan mengubah hidup putri Anda selanjutnya.

Coba berdamai dengan diri sendiri dan pasrah untuk menerima kenyataan yang tak dapat Anda tolak bahwa putri Anda mengalami keterbelakangan mental, dan persiapkan diri Anda secara fisik, emosional maupun mental untuk menerimanya, sebab kunci penyesuaian diri yang efektif mencakup penerimaan diri terhadap hal-hal yang tak dapat diubah, sambil secara aktif berusaha mengubah hal-hal yang masih dapat diubah. Jika hidup terasa berat, katakan ini pada diri sendiri:
”Tuhan memberiku ketenangan untuk menerima hal-hal yang tak dapat kuubah, keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat kuubah, dan kebijaksanaan untuk mengerti perbedaan di antara keduanya” (God grant me the serenity to accept the things I cannot change, the courage to change the things I can, anda the wisdom to know the difference).


Maya Harry,Psi

Sumber : Tabloid Wanita Indonesia
Blog Widget by LinkWithin