Permasalahan :Ibu Rieny yang terhormat,
Saya (24) mahasiswi tingkat akhir sebuah PTS di Yogya, sulung dari 5 bersaudara. Selama ini, saya mencoba menyenangkan hati orang tua dan orang lain, tetapi tidak bisa menyenangkan diri sendiri. Ada yang selalu membayang-bayangi langkah saya. Saya trauma pada masa kecil saya, Bu.
Saya hidup jauh dari orangtua, dan tinggal di rumah nenek dan adik-adik ibu di Purwokerto. Orangtua tidak mampu membiayai sekolah saya. Mungkin karena didikan adik-adik Ibu yang keras dan disiplinnya bagus (salah sedikit saja dimarahi atau dipukul dengan sapu), akibatnya mental saya jadi lemah, Bu. Terkadang muncul rasa takut, cemas dan minder. Apalagi, sejak kecil, saya tidak punya teman curhat.
Namun, pelan-pelan, saya mencoba menghilangkan ketakutan, rasa cemas dan minder itu. Setelah masalah yang satu itu tidak begitu mengganggu, muncul masalah lainnya. Kalau sakit hati, saya tidak bisa memaafkan dan melupakan.
Ini bermula menjelang saya masuk universitas. Waktu itu, saya butuh banyak uang, dan karena itu saya ikut bantu-bantu di rumah adik ibu di Jakarta. Saya butuh uangnya, dia butuh tenaga saya. Saya menjaga rumah kalau adik Ibu pulang kampung, memandikan anaknya yang masih kecil, dan bersih-bersih rumah. Saya lakukan ini untuk menyenangkan hati orang tua saya, agar biaya kuliah saya bisa dibantu.
Dari 5 bersaudara, 4 orang masuk universitas di Yogya. Semuanya berkat bantuan adik ibu yang di Jakarta, tapi keluarga kami selalu makan hati. Adik ibu selalu menekan, menindas harga diri keluarga saya, sehingga saya merasa keluarga saya terkurung dalam sangkar emas. Kalau ke Jakarta, saya tidak bisa keluar rumah dengan teman sebaya. Semua serba diatur, harus begini-lah, begitu-lah, gaul dengan si A-lah, atau si B-lah. Saya selalu dibedakan dari keponakannya yang kaya. Kalau mengingat itu, saya menangis tersedu-sedu seorang diri di kamar.
Terakhir kali, gara-gara masalah sepele, adik ibu mencemooh dan mengusir saya dari rumahnya. Dan yang paling menyakitkan, dia memutuskan hubungan keluarga dengan ibu saya lewat telepon. Saya sedih bercampur senang. Sedih karena putus hubungan keluarga, senang karena bebas dari tekanannya selama ini. Walaupun saya juga tahu, ibu sayalah yang paling menderita karena masalah ini. Sekarang, saya berusaha menyenangkan hati orangtua dengan menyelesaikan studi dan kerja sambilan.
Bu, apa yang harus saya lakukan untuk melupakan masalah-masalah lalu yang membuat saya sedih? Apa yang harus saya upayakan agar mental saya tidak down pada saat-saat ini? Saya tidak mau masa depan saya dihantui masa lalu. Cita-cita saya hanya ingin membahagiakan orang tua dan menyekolahkan adik bungsu ke universitas tahun depan. Terima kasih.
***************
Jawaban :Pepatah mengatakan: "There is no free lunch in this world," yang mengiaskan bahwa tak ada satupun bantuan atau sumbangan yang benar-benar diberikan secara gratis, dalam arti memang diberikan dengan betul-betul tanpa pamrih. Bukankah menantikan ucapan terimakasih dari orang yang kita beri sesuatu juga sudah merupakan pamrih?
Apalagi kalau judulnya adalah membantu biaya kuliah seorang keponakan. Tanpa bermaksud membela adik Tante Anda, bukankah sah-sah saja kalau misalnya ia lalu berharap Anda punya prestasi bagus di sekolah? Dan saat ada waktu luang, melakukan sesuatu untuk keluarganya, sebagai imbal budi?
Masalahnya kemudian, Anda sudah telanjur tumbuh sebagai sosok yang halus perasaannya, sensitif atau mudah tersinggung, tetapi pada sisi lain juga kurang mampu mengekspresikan perasaan secara tepat. Dalam bahasa psikologinya, Anda mengembangkan perilaku yang pasif agresif. Sekilas, tampaknya tidak meledak-ledak, padahal seperti gunung Papandayan yang baru meletus itu, di dalam hatinya menggelegak, penuh perasaan tidak nyaman yang selalu siap ditumpahkan manakala ada peluang.
Gambaran kepribadian Anda khas ditampilkan oleh seseorang yang punya pengalaman dititipkan ke kerabat atau kenalan, dan mendapat perlakuan yang kurang memberi peluang bagi tumbuhnya harga diri yang positif. Ngenger, kalau dalam bahasa Jawanya, memang kerap berdampak kurang baik karena sering membuat individu yang melakoninya jadi minder.
Ada seorang yang saya kenal, ganteng, tinggi besar dan cerdas (ia bisa berbahasa Inggris, Jerman dan Belanda secara lancar), tetapi karier tertingginya hanya penjaga gudang di salah satu ekspedisi laut di Tanjung Priok. Beliau ini sebenarnya putra seorang petinggi tempo dulu, berdarah bangsawan tentu saja. Ibunya meninggal saat melahirkannya dan ayahnya menikah dengan adik ibunya. Mestinya ini "menjamin” bahwa ia berada di tangan ibu tiri yang oke, kan? Nyatanya, si Bibi ini lebih kejam dari ibu tiri!
Sejak kecil, ia hanya mendapat kamar di luar rumah utama, berdampingan dengan para pembantu. Ia tak pernah mendapat baju baru, selalu saja hanya bekas pakai saudara-saudara lainnya, dan satu-satunya kemewahan yang bisa ia nikmati di rumahnya sendiri hanyalah izin untuk membaca buku-buku koleksi perpustakaan kakeknya dan bersekolah di sekolah Belanda. Inipun ia jalan kaki, sementara adik-adik perempuan tirinya, diantar oleh pembantu dengan kendaraan. Sang ibu tiri selalu berdalih bahwa sebagai anak laki-laki, ia harus dididik spartan alias keras. Tetapi, ternyata ini menghancurkan harga dirinya, dan ia tumbuh menjadi sosok yang sangat tertutup, pemalu dan tidak punya PD.
Untungnya (selalu ya, masih saja ada untungnya), setelah sama-sama dewasa, para adik tirinya dapat mengenali penyebab sang kakak menjadi begitu minder, yang tak lain adalah ibu mereka sendiri, dan mereka “menyirami” kakak ini dengan kasih sayang dan perhatian yang besar. Terutama, setelah sang "monster" (ibu kandung mereka) meninggal dunia.
Tetapi, nasi sudah menjadi bubur, dan sang kakak sudah telanjur cuma jadi penjaga gudang. Profesi yang menurut penuturan beliau pada saya tidak membutuhkan basa-basi dengan banyak orang, dapat dikerjakan sendirian, dan dapat dilakoninya sambil menjalani hobi satu-satunya, yakni membaca.
Setiap kali saya memunculkan ingatan saya tentang beliau ini, hati saya selalu terasa ngilu, campuran sedih dan gemas. Sedih, kok ada orang yang setega itu “membunuh karakter” seseorang. Gemas, karena sebetulnya sebagai “ibu sambungan” ia berada dalam posisi sangat mulia untuk berbuat sesuatu. Merawat anak piatu yang tak sempat menikmati kasih sayang ibunya sendiri!
Darimana asalnya perasaan serba rendah ini? Pada saat seseorang membutuhkan perasaan bahwa ia diterima, diinginkan dan disayang, yaitu di masa kecilnya, kebutuhan psikologis yang mendasar ini tidak diperolehnya. Akibatnya, ia merasa diri tak cukup pantas untuk dihargai orang, diterima dan disayangi. Untuk mengimbangi perasaan yang tidak nyaman ini, biasanya seseorang lalu mengembangkan serangkaian perilaku yang dilandasi keinginan untuk menutupi yang dirasakan sebagai kekurangan tadi. Bahasa kerennya, melakukan over kompensasi. Ada yang lalu berlebih-lebihan menampilkan dirinya, yang kita kenal dengan over acting, ada pula yang minder abis, kata anak remaja masa kini.
Yang over acting selalu mencoba menarik perhatian orang lain dengan berperilaku yang lebih sering berakhir dengan rasa sebal dari lingkungannya. Membual, banyak bicara tapi ngawur, merasa mampu tetapi sebenarnya tidak kompeten. Sekilas mereka tampak aktif, tetapi sesungguhnya cuma untuk terlihat sibuk saja.
Sedangkan yang minder abis adalah kebalikannya. Ia hampir-hampir tak berani menampilkan diri. Kelebihan-kelebihannya sebagai individu tak pernah mau ia akui sebagai kenyataan, karena ia yakin sekali bahwa ia tak bisa apa-apa, tak punya apa-apa, dan karenanya tak mungkin disukai orang lain. Mereka biasanya takut menjalin hubungan dengan orang lain, penyendiri, mudah tersinggung, tetapi cuma dipendam sendiri, dan akhirnya tampak misterius untuk lingkungannya.
Pada Ana, masa kecil, yaitu masa dimana landasan bagi terbentuknya harga diri yang positif sedang dibentuk, diingat sebagai masa penuh tekanan dari para tante di rumah nenek. Rupanya, mereka menggunakan dirinya sebagai standar untuk apa yang harus dilakukan oleh si kecil Ana, sehingga ada harapan yang tinggi bahwa Ana bisa melakukan apa-apa yang mereka inginkan. Akibatnya, kesalahan kecil pun mengakibatkan sapu mendarat di badan.
Rangkaian peristiwa ini hanyalah menggarisbawahi perasaan ketidak mampuan Ana, dan biasanya tidak pula diimbangi dengan cukup pujian atau elusan penuh kasih yang menyatakan persetujuan bila Ana melakukan hal-hal yang baik dan benar (biasanya ini dianggap memang sudah seharusnya, jadi tak usah lagi dipuji). Jadilah Ana tumbuh menjadi sosok yang “sibuk” dengan kekurangan-kekurangan dirinya saja.
Kesemua ini menumbuhkan sebuah keyakinan yang kuat bahwa ia memang tak bisa apa-apa, bukan siapa-siapa, dan karenanya tak pantas kalau punya keinginan untuk menampilkan diri ataupun untuk mengambil keputusan-keputusan penting untuk dirinya sendiri.
Nah, kalau Ana ingin melepaskan diri dari perasaan-perasaan tidak nyaman ini, yang pertama harus dilakukan adalah mengumpulkan pengalaman keberhasilan dalam hidup selama ini. Hampir jadi sarjana, punya pekerjaan (sambilan juga tak apa-apa), jelas adalah bukti dari kemampuan Ana. Lalu, kualitas kemanusiaan Ana juga banyak yang positif. Rasa cinta pada ibu dan adik-adik, keinginan untuk mengangkat keluarga dari jerat kemiskinan, ini adalah kelebihan dari seorang Ana yang tak boleh diabaikan.
Langkah berikutnya, tumbuhkan rasa suka dan menyayangi diri sendiri. Hampir semua orang yang menderita kompleks rendah diri atau minder ini tidak menyukai dirinya, karena mereka hanya sibuk dengan kelemahannya atau apa yang tak ia miliki atau yang tak bisa ia capai. Rasa ini akan cepat tumbuh kalau Ana mau “berdamai” dengan masa lalu, memaafkan orang-orang yang pernah mencerca, menghina dan malah memutuskan hubungan persaudaraan dengan Ana.
Kalau orang bilang bahwa memaafkan itu susah, sebenarnya tidak juga, lho Ana. Ini menjadi susah kalau kita tidak memberi peluang untuk melihat dan kemudian memahami bagaimana sudut pandang seseorang tentang masalah yang sedang ia dan Ana hadapi. Masing-masing merasa paling berhak berlaku seperti yang ia tampilkan. Begitu Ana bisa memahami kenapa Bibi, misalnya, berlaku demikian, pasti Ana akan mengatakan: ”Oh, untungnya saya tidak sesempit itu melihat masalah!” Karena, hati ini akan terasa lapang kalau di relung-relungnya kita sediakan banyak toleransi untuk perbedaan-perbedaan yang selalu mungkin akan muncul saat kita berinteraksi dengan orang lain.
Pokoknya, rasanya derajat kita sebagai manusia langsung zyuuuuut melesat naik waktu kita mampu memaafkan, deh Ana. Bila dua langkah besar ini sudah dapat Ana atasi, yang terakhir adalah meningkatkan intensitas pergaulan dengan lebih banyak orang dari beragam latar belakang. Orang-orang ini akan mengajarkan pada Ana bahwa berbeda itu tak selalu harus berakhir dengan pertikaian atau rasa tidak suka. Justru kalau kita pandai menelisik, kenapa kita berbeda dengan orang lain, kita akan tahu bahwa Tuhan memang Maha Besar, karena mampu menciptakan manusia dengan berbagai ragam perilaku dan watak, yang kesemuanya memungkinkan kita bergaul, bersahabat dan bahkan akhirnya menikah dengan orang yang kita cintai, walaupun orang itu jelas-jelas berbeda dalam banyak hal dengan kita.
Dan ketika kita bisa tetap menyelaraskan hubungan dalam perbedaan yang ada, itulah yang namanya proses pendewasaan. Mudah-mudahan, Ana akan sampai ke proses ini, karena sayangnya, banyak sekali orang yang sampai menutup matapun tetap saja hanya mau hidup sesuai dengan apa yang ia anggap baik, benar, dan lebih penting lagi sesuai dengan keinginannya! Mudah-mudahan, saya, Ana dan pembaca tidak termasuk ke dalam golongan ini, karena mereka biasanya adalah sosok yang menyebalkan. Mau enak sendiri tetapi tidak peka pada kebutuhan orang lain. Jangan jadi yang seperti ini, ya Ana? Salam sayang.
Rieny
Sumber : Nova