twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

Setiap saat disadari atau tidak, disengaja atau tidak, berbagai permasalahan datang dan tersimpan dalam hati. Terkadang membuat dada sesak dan kepala penat. Mungkin permasalahan yang Anda hadapi mirip atau pernah dialami rekan yang lain. Melalui blog konsultasi psikologi ini diharapkan Anda menemukan jawaban yang menjadi solusi atau pertimbangan dalam menyelesaikan permasalahan yang Anda hadapi.

Konsultasi Psikologi Update:

Tulis Topik Permasalahan Anda

Tampilkan postingan dengan label Psikologi Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Siapakah Aku ?

Permasalahan:

Pak ustad, keadaan saya ini membingungkan. Jika melakukan sesuatu senantiasa salah. nafsu yang selalu bicara. Yang saya tahu bahwa efek-efek sehabis kejadian aja, lho kok begini? Saya bingung. Saya seperti bukan diri saya sendiri. Saya ini punya penyakit pingin selalu menjadi yang paling baik, paling sempurna, dan sombong. Saya sulit mengendalikan diri saya pak ustad. gimana pak ustad? Terima kasih…

***************



Jawaban :

Ananda Nunu, sepertinya Anda mempunyai ketidakstabilan dalam perilaku Anda. Bisa jadi Anda mempunyai sifat perfeksionis. Perfeksionis adalah suatu problem kejiwaan di mana seseorang mempunyai paham kesempurnaan (perfect).

Kelebihan dari para perfeksionis adalah mereka biasanya selalu bekerja dengan penuh totalitas dengan harapan mereka akan mendapat hasil yang diinginkan. Namun mereka akan mudah sekali kecewa jika ada ketidakberesan atau kekurangan yang boleh jadi dimata orang lain itu wajar-wajar saja.

Oleh karena itu biasanya orang yang mempunyai sifat tersebut cenderung individualistik. Ia sulit mempercayai seseorang untuk mendelegasikan tugasnya, karena menganggap orang lain tidak lebih baik tugasnya daripada dirinya. Emosi dan egoisme biasa mengiringi setiap pekerjaannya.

Alhamdulillah, Anda menyadari kekurangan Anda. Mengetahui kekurangan adalah titik awal untuk merubahnya menjadi kelebihan.

Tata kembali perilaku Anda. Kurangi ketegangan Anda dalam menghadapi sebuah masalah. Selingi lelucon-lelucon ketika Anda bergaul dengan orang lain. Tidak ada salahnya Anda membaca buku atau menyaksikan film-film bertema humor.

Terbukalah terhadap kritik, nasehat dan umpan balik yang tulus, bersedia menerima perspektif baru, mau terus belajar dan mengembangkan diri. Jangan pernah menganggap kritik dan nasehat adalah untuk merendahkan Anda tetapi sebaliknya, kritik dan nasehat merupakan cermin sekaligus "vitamin" bagi kita untuk lebih baik dalam beraktivitas.

Delegasikan tugas bila merasa tidak mampu. Jangan memaksakan diri untuk melakukan sesuatu bila memang Anda tidak sanggup untuk menyelesaikannya. Percayalah dengan kemampuan teman Anda untuk membantu tugas yang ada.

Bergabunglah dalam sebuah organisasi, perkumpulan, majelis taklim dan sebagainya untuk belajar bagaimana mengelola sesuatu secara kelompok (tim) dengan pembagian tugasnya.
Bila Ada kesempatan, ikutilah pelatihan atau training tentang kepribadian sehingga Anda dapat mengetahui dan meningkatkan kemampuan kepribadian Anda dengan tips-tips yang lebih praktis.

Lakukan refreshing secara berkala, misalnya keluar kota, hiking atau mengikuti outbond dapat menjadi salah satu sarana untuk mengurangi ketegangan diri yang ada.
Lakukanlah perubahan secara kontinyu. Berproseslah untuk terus-menerus merubah kekurangan-kekurangan yang Ada pada diri Anda dan menggantinya dengan kepribadian yang lebih baik Jangan lupa buatlah target kapan kiranya Anda berhasil mewujudkan impian Anda ini.
Semoga bermanfaat


Satria Hadi Lubis
Sumber : EraMuslim

Anakku Menderita Epilepsi

babya6c28d.jpg

Permasalahan :

Saya Ibu (41 th) dari anak tunggal perempuan usia 12 tahun kelas 1 SMP. Sejak hampir satu tahun ini putri saya sering mengalami pingsan yang periode hampir setiap 2 minggu sekali. Malah diawal masuk SMP pernah hampir setiap hari. Setelah menjalani beberapa pemeriksaan CT Scan (normal) EEG ada kecenderungan epilepsi (walaupun 3 dokter spesialis syaraf yang saya datangi masih agak ragu akan diagnosenya), darah , jantung, paru-paru semuanya normal, tapi kesimpulan hasil pemeriksaan psikologisnya menunjukkan immaturitas kepribadian yang menyebabkan anak kurang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial.

Subyek sangat rendah toleransinya terhadap situasi yang menekan dan hasil tes bender menunjukkan adanya indikasi kelainan organik. Apa maksudnya? Apa ini ada indikasi bahwa putri kami stres? Bagaimana cara menumbuhkan rasa percaya dirinyA? Karena pernah kepada saya dia mengeluh/merasa dirinya bodoh, padahal IQ nya 107. Memang putri saya ini agak malas belajar dan kurang disiplin. Kepribadian putri saya sesuai hasil itu menunjukkan cukup terbuka tapi cenderung membatasi diri, sukar ditebak apa maunya dan mengarah mudah tersinggung, immature, emosi labil dan cenderung mudah kacau sedangkan pemahaman, verbal, logika dan abstraksi menunjukkan cukup baik.

Salah satu dokter syarafnya pernah akan merekomendasikan ke psikiater, apa bedanya dengan psikolog ya bu? Atas konsultasi yang Ibu berikan, kami ucapkan terima kasih.


Wassalam


***************



Jawaban :

Dear Ibu Henny, terima kasih atas kesabarannya menunggu jawaban konsultasi dari saya. Dari cerita Ibu, bisa saya simpulkan bahwa secara fisiologis dan dalam hal kemampuan intelektualnya ia normal (pemeriksaan darah, jantung, paru-paru normal, pemahaman verbal, logika dan abstraksi cukup baik). Namun, putri Ibu memiliki kecenderungan epilepsi yang kekambuhannya dipicu oleh kondisi stres psikis. Hal ini memang bisa terjadi pada anak-anak yang berkepribadian kurang matang (immature), dimana ia menjadi kurang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan sangat rendah toleransinya terhadap situasi yang menekan (sesuai hasil pemeriksaan psikologis terhadap putri Ibu). Pengalaman masuk SMP adalah salah satu pengalaman yang dirasa sangat menekan dan menimbulkan kecemasan besar bagi putri Ibu. Ia membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, untuk dapat merasa aman dan nyaman serta percaya diri. Itu sebabnya, kecenderungan epilepsi yang ada pada dirinya lalu muncul dalam bentuk serangan pingsan mendadak yang cukup sering, terutama di awal-awal masuk SMP.

Mengenai tes Bender, itu adalah salah satu tes psikologis untuk mengetahui adanya kelainan organik pada otak atau kelainan fungsi otak. Jadi, hasil tes Bender juga menguatkan diagnosa epilepsi yang diderita putri Ibu, dimana terdapat muatan listrik dan pelepasan yang berlebihan atau tidak terkontrol di sel-sel neuron otaknya, sehingga penerimaan serta pengiriman impuls dari otak ke bagian-bagian lain dalam tubuhnya terganggu.

Sedangkan untuk pertanyaan Ibu tentang psikiater dan psikolog, keduanya sama-sama mendalami masalah 'psikis' atau kejiwaan. Bedanya, psikiater adalah seorang dokter spesialis , dimana dalam penanganan pasien bisa menggunakan obat-obatan medis (misalnya : anti depresan, anti anxiety, obat kejang dsb). Sedangkan psikolog, berasal dari disiplin ilmu yang berbeda dari kedokteran dan metode penanganan client dilakukan dengan konsultasi, konseling, pemberian tes-tes psikologis atau bermacam-macam teknik terapi. Jadi, untuk membantu menegakkan diagnosa, psikologis bisa melakukan serangkaian wawancara, observasi dan tes untuk kemudian memberikan terapi yang sesuai. Namun apabila dalam prosesnya dibutuhkan pengobatan medis atau bahkan tindakan pembedahan misalnya, maka harus bekerja sama dengan psikiater, dokter ahli syaraf (neurolog), dsb. Dari sudut pandang psikologis, epilepsi memang bisa terkait atau menyebabkan perubahan emosi yang kompleks yang dapat mengubah perilaku dan kepribadian serta menghambat hubungan interpersonal. Anak menjadi sulit mengendalikan emosinya, mudah tersinggung, atau bisa menjadi kehilangan motivasi belajar di sekolah, kehilangan kepekaan terhadap lingkungan, menjadi egosentris atau menarik diri dari lingkungan sosialnya. Hal ini bisa menjadi lebih parah dengan adanya sikap-sikap yang keliru dari masyarakat, misalnya mengucilkan menganggap penyakit menular, dsb.

Yang terpenting, penderita epilepsi memang perlu ditangani sedini mungkin, sebab semakin lambat penangannya maka efek negatif yang dapat merusak syaraf otak akan semakin besar. Beberapa saran dari saya :

1. Pahami dan terima ketakutan atau kecemasannya. Penderita epilepsi biasanya takut tidak bisa sembuh, takut berenang, takut naik sepeda dan takut kumat di tempat umum lalu menjadi tontonan yang memalukan bagi orang-orang. Dengan sabar dan telaten, tumbuhkan rasa percaya diri putri ibu dengan menceritakan fakta-fakta yang sebenarnya tentang penyakit epilepsi yang dideritanya. Yang jelas, epilepsi tidak menular, bukan penyakit keturunan dan bukan keterbelakangan mental. Bahkan, fakta bahwa banyak orang ternama yang juga menderita epilepsi namun tetap bisa berkarya melebihi orang-orang normal perlu ibu sampaikan agar ia optimis dan lebih percaya diri dalam menjalani hidupnya.

2. Gali potensi dan bakat-bakatnya atau cari tahu kegiatan apa yang menjadi hobinya di waktu luang, lalu dorong putri Anda untuk menekuninya sehingga berbuah menjadi prestasi yang dapat dibanggakan. Dengan demikian, ia akan lebih percaya diri dan bahagia.

3. Sebisa mungkin, hindari situasi-situasi yang dapat menambah tekanan bagi anak dan persiapkan dirinya menghadapi berbagai situasi. Misalnya jika akan berkunjung ke suatu tempat yang baru, katakan bahwa nanti ia akan bertemu dengan di A, si B atau akan melakukan ini dan itu. Hindari juga kelelahan, kurang tidur, terlambat makan, kedinginan, atau terlalu memaksanya dalam belajar. Sebaiknya orang tua tidak menerapkan aturan disiplin yang kaku yang mudah menimbulkan kecemasan dan tekanan bagi anak-anak dengan kepribadian yang rentan. Lebih baik, beri semangat dan sesuaikan dengan kapasitas atau kesanggupan anak dalam belajar. Kepekaan dan kesigapan memberikan bantuan dalam belajar ketika anak membutuhkan juga amat diperlukan.

Wajar jika orangtua merasa cemas dan frustasi memikirkan masa depan anaknya yang mengidap epilepsi. Ibu tentu cemas membayangkan putri Ibu mendadak kejang-kejang dan dikucilkan oleh orang-orang dengan anggapan yang keliru tentang epilepsi. Namun Ibu harus optimis. Dengan bantuan pengobatan yang benar, banyak penderita epilepsi mampu hidup normal. Untuk menambah wawasan dan memenuhi kebutuhan akan informasi, bu Henny bisa bergabung di perhimpunan orang tua penyandang epilepsi yang ada di berbagai daerah.

4. Usahakan tetap tenang dan sigap ketika anak kena serangan mendadak. Tentunya bu Henny sudah mengetahui langkah-langkah yang perlu (dan yang tak boleh) dilakukan ketika putri Ibu menghadapi serangan kejang. Persiapkan diri dengan menyediakan obat-obatan di tempat yang mudah terlihat/terjangkau dan simpan nomer-nomer telepon penting/darurat, seperti rumah sakit atau dokter.

Jika putri Ibu minum obat-obatan antiepilepsi, konsultasikan selalu dengan dokter yang merawatnya, sebab ada obat-obatan penenang yang memiliki efek samping melambatkan proses berfikir. Karena munculnya pada usia sekolah, maka obat-obatan yang keliru bisa mengganggu kemampuan dan prestasi belajarnya.

Tentunya, apa yang saya sampaikan di sini belum cukup untuk menjawab semua pertanyaan Ibu. Langkah-langkah yang lebih detil dan terencana perlu Ibu konsultasikan langsung dengan psikiater atau psikolog yang berpraktek di kota Ibu. Dengan kesabaran dan kasih sayang Ibu dalam mendampingi dan memberinya semangat untuk melakukan berbagai upaya untuk sembuh, saya percaya putri Ibu dapat tumbuh dan berkembang normal seperti teman-temannya.


Maya Harry, Psi

Sumber : Wanita Indonesia

Kehilangan Motivasi

Permasalahan :

Saya ingin konsultasi. Sudah lama saya sering curhat mengenai masalah saya kepada teman, tetapi tidak ada hasilnya. Saya bingung, kenapa seakan-akan hidup ini tidak adil.

Saya frustasi karena kegagalan untuk mencapai target lulus kuliah 4 tahun yang menyebabkan orang tua saya kecewa karena harapannya hilang. Padahal saya yakin kalau saya bisa dalam pelajaran, namun saya merasa kenapa saya seakan-akan dihambat sehingga semua apa yang saya usahakan selama ini sia-sia. Saya benar-benar jatuh sekarang. Saya tidak tahu harus minta tolong kepada siapa lagi untuk mengembalikan motivasi saya yang telah hilang. Semoga jawaban ini nanti dapat sedikit mencerahkan diri saya. Terima kasih.


***************



Jawaban :

Kegagalan memang sesuatu yang menyakitkan dan setiap orang pasti pernah merasakan kegagalan walaupun dengan kadar yang berbeda. Bahkan banyak di sekitar kita — tanpa kita sadari — orang-orang yang mengalami kegagalan dengan kadar yang lebih tinggi dari kira
Yang harus kita pahami adalah bagaimana kita menyikapi kegagalan ini. Karena Anda menganggap beratnya masalah tersebut, Anda merasa menjadi orang yang “tak putus dirundung malang”, sehingga akhirnya menjadi apatis dan lemah semangat. Anda juga akhirnya bingung untuk memecahkan masalah tersebut. Sebenarnya, sikap apatis dan kebingungan tersebut tak perlu terjadi jika Anda tetap dapat berpikir jernih. Biasanya masalah menjadi terasa berat dan bingung untuk memecahkannya karena kita tak dapat memisahkan diri dari masalah tersebut dan terlalu terlibat secara emosional.

Tapi jika Anda mencoba “menjaga jarak” dari masalah dan mengendalikan emosi Anda, masalah akan terlihat lebih mudah untuk dicarikan solusinya. Dengan berpikir jernih, Anda dapat mengurai masalah secara lebih baik lagi. Anda dapat lebih mudah menemukan akar penyebab masalah. Dan dari akar penyebab itulah kemudian Anda mencoba mencari solusinya.
Karena itu, jangan anggap berat masalah yang dihadapi agar Anda tetap dapat optimis dan semangat memecahkannya. Agar Anda tetap mampu berpikir jernih untuk mencari solusinya.

Pikirkan kegagalan sebagai jalan untuk meraih keberhasilan.
Memang, sesungguhnya semakin sering kita gagal, maka semakin tahu kita bagaimana cara memperoleh sukses. Sebaliknya, orang yang tak pernah gagal juga tak akan pernah tahu cara mencapai sukses. Hal inilah yang harus Anda camkan agar tak kecewa dengan kegagalan. Jika Anda gagal, buang jauh-jauh pikiran untuk tidak berani mencoba lagi. Justru Anda harus termotivasi untuk mencoba lagi karena Anda sebenarnya semakin dekat kepada keberhasilan.
Suatu hal yang aneh jika Anda patah semangat karena gagal.

Kegagalan itu hanya menyakitkan pada awalnya, tapi setelah itu justru mengandung hikmah yang banyak. Anda akan tahu lebih banyak tentang bagaimana caranya memperoleh keberhasilan. Kegagalan sebagai jalan meraih sukses bukanlah kata-kata yang penuh retorika belaka, tapi sudah dibuktikan kebenarannya oleh sekian banyak orang-orang sukses. Orang tersebut misalnya, Nabi Muhammad saw, Thomas Alva Edison, Abraham Lincoln, Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, Jack Canfield (penulis serial Chicken’s Soup), Billi PS. Lim (penulis “Dare to Fail”), dan lain-lain.

Jika Anda yakin bahwa kegagalan bukanlah gagal dalam pengertian sebenarnya, tapi “syarat” untuk meraih keberhasilan, maka Anda tidak akan pernah pesimis dengan kegagalan. Justru Anda akan bertambah semangat karena gagal. Bahkan jika kegagalan yang Anda alami semakin banyak, semakin bertambah besar semangat Anda untuk mencoba lagi. Sebab Anda yakin bahwa sebentar lagi Anda akan meraih kesuksesan.



Satria Hadi Lubis
Sumber : EraMuslim

Anak Tantrum

Permasalahan :

Assalamualaikum
Saya mau bertanya : anak saya ( perempuan ) umur 10 th, kelas 4 SD, anak pertama, memiliki sifat yang sangat sesitif . Kalau ada yang tidak berkenan di hatinya, dia mudah sekali ngambek dan kalau menangis susah sekali berhenti, bisa berjam – jam.

Biasanya kalau ada kata – kata saya baik itu becanda atau teguran (walaupun disampaikan dengan baik atau tidak dengan membentak / marah) selama itu tidak sesuai dengan hatinya, maka dia akan ngambek dan bisa menjadi masalah yang lebih besar karena ujung – ujungnya dia akan mengangis lama, dan baru berhenti kalau kita peluk erat -erat dan meminta maaf, telah salah ucap. Saya sebagai ibunya, kadang jadi takut bicara dengannya karena takut salah. Tapi kalau dia dicuekin juga bisa ngambek. Saya jadi serba salah.

Pertanyaan saya, bagaimana sebaiknya saya bersikap? Mohon bantuannya. Terima kasih atas waktu dan jawabannya.


***************



Jawaban:

Dari apa yang dituliskan dalam surat Anda, dimungkinkan sang anak mengalami tantrum. Perilaku tersebut biasanya muncul sebagai strategi anak untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Faktanya, sebagian orangtua selalu mengalah dan memenuhi apa yang diminta anak, akibatnya perilaku tantrum itu diperkuat (dalam sudut pandang anak, berperilaku tantrum = keinginan dipenuhi, atau tantrum = puas). Oleh karena itu, tidak mengherankan perilaku tersebut terus menerus dilakukan anak. Sayangnya, orangtua kadang memang tidak sanggup untuk tidak memenuhi apa yang diminta anak karena sangat terganggu (malu pada orang lain, pusing, tidak tahu apa lagi yang harus diperbuat, dan lainnya).

Salah satu strategi yang diketahui cukup berhasil menangani tantrum adalah “time out”. Setiap kali anak melakukan tantrum, maka orangtua membiarkannya, meskipun anak menangis berjam-jam. Dalam hal ini konsistensi diperlukan. Dalam kurun waktu “time out”, Anda tidak boleh menunjukkan keprihatinan atau perhatian. Anak harus mutlak diabaikan. Tentu saja langkah ini akan memerlukan ketegaran Anda. Strategi ini biasanya gagal karena orangtua tidak tahan mengabaikan anak.

Sebaiknya, pada saat anak tidak tantrum (jauh setelah tantrum anak berakhir), barulah Anda memberikan apa yang diminta (jika bisa dipenuhi Anda). Dengan demikian anak belajar bahwa tantrum tidak menghasilkan apa-apa bagi dirinya.

Perlu diketahui, perilaku anak mencari perhatian melalui perilaku tantrum biasanya merupakan akibat dari tidak terpenuhinya perhatian yang diinginkannya, seperti misalnya merasa disaingi saudara yang lain, Anda terlalu sibuk, atau yang lainnya.
Selamat mencoba. Apabila memerlukan info lebih lanjut, silakan untuk terus menghubungi kami. Tim kami akan mengawal langkah-langkah Anda.
Salam




Sumber : Tim psikologi-online.com

Rendah Diri Akibat Trauma Masa Lalu

Permasalahan :

Ibu Rieny yang terhormat,
Saya (24) mahasiswi tingkat akhir sebuah PTS di Yogya, sulung dari 5 bersaudara. Selama ini, saya mencoba menyenangkan hati orang tua dan orang lain, tetapi tidak bisa menyenangkan diri sendiri. Ada yang selalu membayang-bayangi langkah saya. Saya trauma pada masa kecil saya, Bu.

Saya hidup jauh dari orangtua, dan tinggal di rumah nenek dan adik-adik ibu di Purwokerto. Orangtua tidak mampu membiayai sekolah saya. Mungkin karena didikan adik-adik Ibu yang keras dan disiplinnya bagus (salah sedikit saja dimarahi atau dipukul dengan sapu), akibatnya mental saya jadi lemah, Bu. Terkadang muncul rasa takut, cemas dan minder. Apalagi, sejak kecil, saya tidak punya teman curhat.
Namun, pelan-pelan, saya mencoba menghilangkan ketakutan, rasa cemas dan minder itu. Setelah masalah yang satu itu tidak begitu mengganggu, muncul masalah lainnya. Kalau sakit hati, saya tidak bisa memaafkan dan melupakan.

Ini bermula menjelang saya masuk universitas. Waktu itu, saya butuh banyak uang, dan karena itu saya ikut bantu-bantu di rumah adik ibu di Jakarta. Saya butuh uangnya, dia butuh tenaga saya. Saya menjaga rumah kalau adik Ibu pulang kampung, memandikan anaknya yang masih kecil, dan bersih-bersih rumah. Saya lakukan ini untuk menyenangkan hati orang tua saya, agar biaya kuliah saya bisa dibantu.

Dari 5 bersaudara, 4 orang masuk universitas di Yogya. Semuanya berkat bantuan adik ibu yang di Jakarta, tapi keluarga kami selalu makan hati. Adik ibu selalu menekan, menindas harga diri keluarga saya, sehingga saya merasa keluarga saya terkurung dalam sangkar emas. Kalau ke Jakarta, saya tidak bisa keluar rumah dengan teman sebaya. Semua serba diatur, harus begini-lah, begitu-lah, gaul dengan si A-lah, atau si B-lah. Saya selalu dibedakan dari keponakannya yang kaya. Kalau mengingat itu, saya menangis tersedu-sedu seorang diri di kamar.

Terakhir kali, gara-gara masalah sepele, adik ibu mencemooh dan mengusir saya dari rumahnya. Dan yang paling menyakitkan, dia memutuskan hubungan keluarga dengan ibu saya lewat telepon. Saya sedih bercampur senang. Sedih karena putus hubungan keluarga, senang karena bebas dari tekanannya selama ini. Walaupun saya juga tahu, ibu sayalah yang paling menderita karena masalah ini. Sekarang, saya berusaha menyenangkan hati orangtua dengan menyelesaikan studi dan kerja sambilan.

Bu, apa yang harus saya lakukan untuk melupakan masalah-masalah lalu yang membuat saya sedih? Apa yang harus saya upayakan agar mental saya tidak down pada saat-saat ini? Saya tidak mau masa depan saya dihantui masa lalu. Cita-cita saya hanya ingin membahagiakan orang tua dan menyekolahkan adik bungsu ke universitas tahun depan. Terima kasih.


***************



Jawaban :

Pepatah mengatakan: "There is no free lunch in this world," yang mengiaskan bahwa tak ada satupun bantuan atau sumbangan yang benar-benar diberikan secara gratis, dalam arti memang diberikan dengan betul-betul tanpa pamrih. Bukankah menantikan ucapan terimakasih dari orang yang kita beri sesuatu juga sudah merupakan pamrih?

Apalagi kalau judulnya adalah membantu biaya kuliah seorang keponakan. Tanpa bermaksud membela adik Tante Anda, bukankah sah-sah saja kalau misalnya ia lalu berharap Anda punya prestasi bagus di sekolah? Dan saat ada waktu luang, melakukan sesuatu untuk keluarganya, sebagai imbal budi?

Masalahnya kemudian, Anda sudah telanjur tumbuh sebagai sosok yang halus perasaannya, sensitif atau mudah tersinggung, tetapi pada sisi lain juga kurang mampu mengekspresikan perasaan secara tepat. Dalam bahasa psikologinya, Anda mengembangkan perilaku yang pasif agresif. Sekilas, tampaknya tidak meledak-ledak, padahal seperti gunung Papandayan yang baru meletus itu, di dalam hatinya menggelegak, penuh perasaan tidak nyaman yang selalu siap ditumpahkan manakala ada peluang.

Gambaran kepribadian Anda khas ditampilkan oleh seseorang yang punya pengalaman dititipkan ke kerabat atau kenalan, dan mendapat perlakuan yang kurang memberi peluang bagi tumbuhnya harga diri yang positif. Ngenger, kalau dalam bahasa Jawanya, memang kerap berdampak kurang baik karena sering membuat individu yang melakoninya jadi minder.

Ada seorang yang saya kenal, ganteng, tinggi besar dan cerdas (ia bisa berbahasa Inggris, Jerman dan Belanda secara lancar), tetapi karier tertingginya hanya penjaga gudang di salah satu ekspedisi laut di Tanjung Priok. Beliau ini sebenarnya putra seorang petinggi tempo dulu, berdarah bangsawan tentu saja. Ibunya meninggal saat melahirkannya dan ayahnya menikah dengan adik ibunya. Mestinya ini "menjamin” bahwa ia berada di tangan ibu tiri yang oke, kan? Nyatanya, si Bibi ini lebih kejam dari ibu tiri!

Sejak kecil, ia hanya mendapat kamar di luar rumah utama, berdampingan dengan para pembantu. Ia tak pernah mendapat baju baru, selalu saja hanya bekas pakai saudara-saudara lainnya, dan satu-satunya kemewahan yang bisa ia nikmati di rumahnya sendiri hanyalah izin untuk membaca buku-buku koleksi perpustakaan kakeknya dan bersekolah di sekolah Belanda. Inipun ia jalan kaki, sementara adik-adik perempuan tirinya, diantar oleh pembantu dengan kendaraan. Sang ibu tiri selalu berdalih bahwa sebagai anak laki-laki, ia harus dididik spartan alias keras. Tetapi, ternyata ini menghancurkan harga dirinya, dan ia tumbuh menjadi sosok yang sangat tertutup, pemalu dan tidak punya PD.

Untungnya (selalu ya, masih saja ada untungnya), setelah sama-sama dewasa, para adik tirinya dapat mengenali penyebab sang kakak menjadi begitu minder, yang tak lain adalah ibu mereka sendiri, dan mereka “menyirami” kakak ini dengan kasih sayang dan perhatian yang besar. Terutama, setelah sang "monster" (ibu kandung mereka) meninggal dunia.

Tetapi, nasi sudah menjadi bubur, dan sang kakak sudah telanjur cuma jadi penjaga gudang. Profesi yang menurut penuturan beliau pada saya tidak membutuhkan basa-basi dengan banyak orang, dapat dikerjakan sendirian, dan dapat dilakoninya sambil menjalani hobi satu-satunya, yakni membaca.

Setiap kali saya memunculkan ingatan saya tentang beliau ini, hati saya selalu terasa ngilu, campuran sedih dan gemas. Sedih, kok ada orang yang setega itu “membunuh karakter” seseorang. Gemas, karena sebetulnya sebagai “ibu sambungan” ia berada dalam posisi sangat mulia untuk berbuat sesuatu. Merawat anak piatu yang tak sempat menikmati kasih sayang ibunya sendiri!

Darimana asalnya perasaan serba rendah ini? Pada saat seseorang membutuhkan perasaan bahwa ia diterima, diinginkan dan disayang, yaitu di masa kecilnya, kebutuhan psikologis yang mendasar ini tidak diperolehnya. Akibatnya, ia merasa diri tak cukup pantas untuk dihargai orang, diterima dan disayangi. Untuk mengimbangi perasaan yang tidak nyaman ini, biasanya seseorang lalu mengembangkan serangkaian perilaku yang dilandasi keinginan untuk menutupi yang dirasakan sebagai kekurangan tadi. Bahasa kerennya, melakukan over kompensasi. Ada yang lalu berlebih-lebihan menampilkan dirinya, yang kita kenal dengan over acting, ada pula yang minder abis, kata anak remaja masa kini.

Yang over acting selalu mencoba menarik perhatian orang lain dengan berperilaku yang lebih sering berakhir dengan rasa sebal dari lingkungannya. Membual, banyak bicara tapi ngawur, merasa mampu tetapi sebenarnya tidak kompeten. Sekilas mereka tampak aktif, tetapi sesungguhnya cuma untuk terlihat sibuk saja.

Sedangkan yang minder abis adalah kebalikannya. Ia hampir-hampir tak berani menampilkan diri. Kelebihan-kelebihannya sebagai individu tak pernah mau ia akui sebagai kenyataan, karena ia yakin sekali bahwa ia tak bisa apa-apa, tak punya apa-apa, dan karenanya tak mungkin disukai orang lain. Mereka biasanya takut menjalin hubungan dengan orang lain, penyendiri, mudah tersinggung, tetapi cuma dipendam sendiri, dan akhirnya tampak misterius untuk lingkungannya.

Pada Ana, masa kecil, yaitu masa dimana landasan bagi terbentuknya harga diri yang positif sedang dibentuk, diingat sebagai masa penuh tekanan dari para tante di rumah nenek. Rupanya, mereka menggunakan dirinya sebagai standar untuk apa yang harus dilakukan oleh si kecil Ana, sehingga ada harapan yang tinggi bahwa Ana bisa melakukan apa-apa yang mereka inginkan. Akibatnya, kesalahan kecil pun mengakibatkan sapu mendarat di badan.

Rangkaian peristiwa ini hanyalah menggarisbawahi perasaan ketidak mampuan Ana, dan biasanya tidak pula diimbangi dengan cukup pujian atau elusan penuh kasih yang menyatakan persetujuan bila Ana melakukan hal-hal yang baik dan benar (biasanya ini dianggap memang sudah seharusnya, jadi tak usah lagi dipuji). Jadilah Ana tumbuh menjadi sosok yang “sibuk” dengan kekurangan-kekurangan dirinya saja.

Kesemua ini menumbuhkan sebuah keyakinan yang kuat bahwa ia memang tak bisa apa-apa, bukan siapa-siapa, dan karenanya tak pantas kalau punya keinginan untuk menampilkan diri ataupun untuk mengambil keputusan-keputusan penting untuk dirinya sendiri.
Nah, kalau Ana ingin melepaskan diri dari perasaan-perasaan tidak nyaman ini, yang pertama harus dilakukan adalah mengumpulkan pengalaman keberhasilan dalam hidup selama ini. Hampir jadi sarjana, punya pekerjaan (sambilan juga tak apa-apa), jelas adalah bukti dari kemampuan Ana. Lalu, kualitas kemanusiaan Ana juga banyak yang positif. Rasa cinta pada ibu dan adik-adik, keinginan untuk mengangkat keluarga dari jerat kemiskinan, ini adalah kelebihan dari seorang Ana yang tak boleh diabaikan.

Langkah berikutnya, tumbuhkan rasa suka dan menyayangi diri sendiri. Hampir semua orang yang menderita kompleks rendah diri atau minder ini tidak menyukai dirinya, karena mereka hanya sibuk dengan kelemahannya atau apa yang tak ia miliki atau yang tak bisa ia capai. Rasa ini akan cepat tumbuh kalau Ana mau “berdamai” dengan masa lalu, memaafkan orang-orang yang pernah mencerca, menghina dan malah memutuskan hubungan persaudaraan dengan Ana.

Kalau orang bilang bahwa memaafkan itu susah, sebenarnya tidak juga, lho Ana. Ini menjadi susah kalau kita tidak memberi peluang untuk melihat dan kemudian memahami bagaimana sudut pandang seseorang tentang masalah yang sedang ia dan Ana hadapi. Masing-masing merasa paling berhak berlaku seperti yang ia tampilkan. Begitu Ana bisa memahami kenapa Bibi, misalnya, berlaku demikian, pasti Ana akan mengatakan: ”Oh, untungnya saya tidak sesempit itu melihat masalah!” Karena, hati ini akan terasa lapang kalau di relung-relungnya kita sediakan banyak toleransi untuk perbedaan-perbedaan yang selalu mungkin akan muncul saat kita berinteraksi dengan orang lain.

Pokoknya, rasanya derajat kita sebagai manusia langsung zyuuuuut melesat naik waktu kita mampu memaafkan, deh Ana. Bila dua langkah besar ini sudah dapat Ana atasi, yang terakhir adalah meningkatkan intensitas pergaulan dengan lebih banyak orang dari beragam latar belakang. Orang-orang ini akan mengajarkan pada Ana bahwa berbeda itu tak selalu harus berakhir dengan pertikaian atau rasa tidak suka. Justru kalau kita pandai menelisik, kenapa kita berbeda dengan orang lain, kita akan tahu bahwa Tuhan memang Maha Besar, karena mampu menciptakan manusia dengan berbagai ragam perilaku dan watak, yang kesemuanya memungkinkan kita bergaul, bersahabat dan bahkan akhirnya menikah dengan orang yang kita cintai, walaupun orang itu jelas-jelas berbeda dalam banyak hal dengan kita.

Dan ketika kita bisa tetap menyelaraskan hubungan dalam perbedaan yang ada, itulah yang namanya proses pendewasaan. Mudah-mudahan, Ana akan sampai ke proses ini, karena sayangnya, banyak sekali orang yang sampai menutup matapun tetap saja hanya mau hidup sesuai dengan apa yang ia anggap baik, benar, dan lebih penting lagi sesuai dengan keinginannya! Mudah-mudahan, saya, Ana dan pembaca tidak termasuk ke dalam golongan ini, karena mereka biasanya adalah sosok yang menyebalkan. Mau enak sendiri tetapi tidak peka pada kebutuhan orang lain. Jangan jadi yang seperti ini, ya Ana? Salam sayang.



Rieny
Sumber : Nova

Disiplin Untuk Anak

Permasalahan :

Saya seorang Ibu dari anak balita laki-laki usia 2 tahun. Namanya baru punya anak satu, rasanya ingin selalu memberikan perhatian dan kasih sayang yang berlimpah dan menuruti segala keinginannya. Suami pun demikian. Sayangnya luar biasa kepada anak, yang diwujudkan dengan cara membelikan berbagai kebutuhannya sampai berlebih-lebihan. Mainan yang belum waktunya (untuk umur yang lebih besar) sudah ia belikan kalau kebetulan mampir ke mal toko mainan dan melihat yang bagus. Makanan selalu kami pilihkan yang terbaik, dan kalau saya senang sekali beli baju untuknya, sampai ada yang belum sempat dipakai tahu-tahu sudah tidak muat karena pertumbuhan badannya cepat sekali.

Saya berdebat dengan suami tentang kapan waktunya mulai mengajarkan disiplin yang benar kepada anak kami tersebut, karena selama ini kami cenderung menuruti saja segala keinginannya, agar dia selalu gembira dan bahagia. Namun banyak teman-teman dan kerabat yang mengingatkan agar kami mulai mengajarkan disiplin agar ia tidak menjadi anak nakal nantinya. Semula, kami berprinsip, biarlah ia menikmati masa kecilnya dengan bebas, baru kemudian akan kami ajarkan aturan-aturan. Yang menjadi pertanyaan, kapan sebaiknya anak mulai diajarkan aturan? Saya takut terlambat. Maaf kalau pertanyaan saya terlalu sepele, tapi sebetulnya bagaimana yang benar atau mana yang lebih penting untuk anak seusianya? Kasih sayang atau disiplin? Dan bagaimana caranya yang tepat?

Terima kasih atas jawaban Ibu Maya.

***************




Jawaban :

Bu Ratna, terima kasih atas suratnya. Saya tidak menganggap pertanyaan Ibu sepele lho. Memang kelihatannya mudah memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak, bahkan sepertinya itu otomatis saja. Orang tua mana sih yang tak sayang kepada anaknya? Namun, berhubung bentuk perhatian dan kasih sayang itu bermacam-macam, orang tua tetap perlu cermat dalam menyusun konsep perhatian dan kasih sayang yang tepat agar tak melakukan kesalahan yang justru bisa berakibat negatif atau merugikan bagi perkembangan anak.

Intinya, kasih sayang dan disiplin itu sama pentingnya dan sama-sama dibutuhkan oleh anak. Kasih sayang saja tanpa adanya batasan dan aturan di rumah sama buruknya dengan disiplin kaku yang kering kasih sayang. Yang terbaik adalah menyeimbangkan antara limpahan kasih sayang dengan penerapan disiplin sejak dini, yang disesuaikan dengan usia dan taraf perkembangan anak. Nah, yang bagaimanakah itu?

Anak akan berkembang secara positif jika terpenuhi kebutuhannya akan perhatian dan kasih sayang. Antara lain, ia akan merasa aman karena yakin orang tuanya selalu hadir di saat ia membutuhkan perhatian. Ia akan merasa kehadirannya diterima dan diharapkan oleh orang tuanya, sehingga tidak mudah cemas karena yakin apa pun yang terjadi ia pasti mendapat dukungan. Selanjutnya, ia akan tumbuh lebih mandiri, percaya diri dan mengembangkan konsep diri yang positif, sehingga tidak akan mencari-cari perhatian dengan cara yang salah (mis: sengaja berperilaku nakal agar diperhatikan oleh orang tuanya). Namun, anak laki-laki dan perempuan membutuhkan bentuk perhatian yang berbeda. Anak perempuan lebih peka terhadap ekspresi kasih sayang dan perhatian yang berbentuk kontak fisik (physical affection) seperti ciuman, dekapan, elusan di kepala, belaian di pipi dsb. Sedangkan bagi putra Ibu yang aktif, ia akan merasa disayang dan diperhatikan jika orang tuanya menemani dalam bermain, mengeksplorasi lingkungan, tidak terlalu membatasi dan melarang ini-itu. Yang jelas, anak laki-laki maupun anak perempuan akan merasa bahagia jika mendapat pujian atau mendengar kata-kata sayang dari orang tuanya. Meski demikian, pemberian perhatian dan kasih sayang harus diimbangi dengan batasan dan pengenalan tentang disiplin sejak dini, serta disesuaikan dengan usia dan taraf perkembangan anak.

Berikut ini adalah saran-saran dalam membesarkan balita Anda yang aktif, dengan kasih sayang yang disertai ajaran-ajaran tentang disiplin:

1. Di usia ini, ia sedang sangat penuh semangat bereksplorasi. Rasa ingin tahunya sangat besar, sehingga ia ingin melakukan banyak hal dan mencoba berbagai hal baru dengan memegang, menarik, mengambil, menjatuhkan, mengutak-atik ini-itu, dsb. Nah, biarkan ia bebas bereksplorasi dan mengenal realitas kehidupan, misalnya: jika terjatuh, rasanya sakit oleh karena itu harus berhati-hati. Meski tidak selalu harus dipegangi atau dibantu jika ia jatuh, anak harus tetap di bawah penjagaan orang tua/pengasuh agar ia terhindar dari bahaya yang lebih besar.

2. Melatih kedisiplinan dan memperkenalkan anak pada aturan sebaiknya dilakukan sejak dini, bahkan bisa dimulai sejak baru lahir. Secara konsisten, tunjukkan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, mana yang baik dan mana yang buruk, disertai penjelasan yang tepat dan disampaikan dalam bahasa yang dimengerti oleh anak-anak. Beri batas-batas yang jelas, misalnya tidak boleh memegang stop kontak yang ada di dinding, tidak boleh bermain di dapur, tidak boleh mencoret-coret dinding dan kalau menggambar harus di kertas yang disediakan, harus cuci tangan sebelum dan sesudah makan, dsb.

3.Untuk membentuk pola kebiasaan hidup teratur, jadwalkan kegiatan anak sehari-hari sehingga ia tahu kapan waktunya makan, mandi, bermain dan tidur. Latihan kemandirian dan disiplin bisa dimulai dengan mengajarkannya makan sendiri, mandi sendiri, memilih baju yang ingin dikenakan, membereskan mainan-mainannya, menggosok gigi sebelum tidur atau melipat selimutnya ketika bangun tidur.

4. Sesekali, orang tua perlu bersikap tegas dan bila perlu memberikan hukuman jika anak melakukan kesalahan atau kesengajaan. Pemberian hukuman harus disesuaikan dengan tingkat pemahaman anak dan harus disertai penjelasan mengapa ia dihukum, perilaku apa yang salah dan bagaimana memperbaikinya. Yang pasti dan tak boleh ditawar-tawar: hindari pemberian hukuman fisik (mencubit, menjewer, memukul, menampar, dsb.). Di samping itu, jangan lupa juga untuk memberikan perhatian dan penghargaan terhadap perilaku-perilaku yang positif.

5. Hindari perlakuan yang berlebihan terhadap anak, termasuk juga kebiasaan membelikan baju dan mainan atau memberikan makanan yang berlebihan dari yang ia butuhkan secara wajar. Jangan terjebak pada sikap mengkompesasikan rasa bersalah karena sibuk bekerja dengan memberi perhatian yang berlebihan pada anak, karena tidak akan berdampak positif, bahkan bisa mengajarkan anak nilai yang salah yaitu pemborosan, tidak menghargai uang dan sulitnya mencari uang, serta bisa menumbuhkan sikap manja.

Demikian bu Ratna, intinya hindari pengajaran disiplin yang terlalu keras, kaku dan otoriter karena hanya akan menjadikan anak berkembang menjadi seorang penakut, ragu-ragu, tidak spontan, tidak ramah dan tidak berani berinisiatif, namun juga jangan terlalu longgar dan selalu memperbolehkan semuanya (permisif) karena akan menjadikan anak manja dan seenaknya. Istilah yang umum dipakai adalah pola asuh autoritatif, yaitu pemberian perhatian dan kasih sayang yang diimbangi dengan ketegasan, aturan dan pengajaran disiplin yang sesuai dengan usia dan taraf perkembangan anak.



Maya Harry, Psi
Sumber : Wanita Indonesia

Menjadi Idola

Permasalahan :

Aa Gym, singkat saja pertanyaan saya, bagaimana menjadi orangtua yang disayangi dan diidolakan anak? Saya miris melihat keadaan sekarang, di mana sebagian besar anak lebih mengidolakan orang lain daripada mengidolakan orangtuanya. Alhamdulillah, anak saya masih kecil. Saya tidak mau menjadi “pelengkap” saja bagi mereka. Ditunggu jawabannya Aa, terima kasih banyak.


***************


Jawaban:

Saudaraku, mencintai anak tidak cukup sekadar memenuhi kebutuhan fisiknya saja. Ada yang harus mati-matian dilakukan orangtua, yaitu menjadi teladan terbaik bagi anak-anaknya. Sehingga mereka mengetahui figur mulia dari apa yang dilihat dan dirasakan di rumahnya. Jika ingin memiliki anak yang lembut, maka orangtua yang harus lebih lembut. Kalau ingin anak soparn, maka orangtua yang harus duluan sopan. Kalau ingin anak saleh, maka orangtua harus paling duluan saleh. Inilah yang terpenting bagi orangtua, berlomba-lomba menjadi teladan di rumahnya.

Sayangnya, menjadi teladan itu sangat salit, kecuali bagi mereka yang memiliki ilmunya. Penyebab utama sulitnya orangtua menjadi idola bagi anak-anak mereka, adalah tidak sebandingnya kecepatan tumbuh kembang anak dengan kecepatan ilmu yang mereka miliki. Sungguh tidak gampang menjadi orangtua andai tidak memiliki ilmu mengurus dan membesarkan anak. Karena itu, rahasia untuk menjadi orangtua yang diidolakan adalah kegigihan mencari ilmu. Bertambah umur anak, bertambah pula masalah dan cara mendekatinya. Kita tidak bisa menjadi orangtua teladan, jika kita tidak rajin menuntut ilmu. Ilmu apa? Ilmu untuk memperbaiki diri sendiri, sebelum mendidik anak menjadi lebih baik.
Saran Aa, miliki waktu khusus untuk mencari ilmu, misal untuk membaca buku, ikut seminar, kursus, dsb. Serta berusahalah untuk mengamalkannya. Sungguh, teramat sulit menjadikan anak-anak kita baik, jika kitanya belum baik.


(KH Abdullah Gymnastiar)
Sumber : Republika Online

Planning Bisnis Sambil Kuliah

Permasalahan :

Saya herman mahasiswa yang sekarang insya 4JJI akan masuk disalah satu perguruan tinggi negri di Yogyakarta. Mengingat biaya kuliah yang cukup mahal, maka saya ingin mendapatkan arahan kepada bapak yang kira-kira model bisnis yang seperti apa yang sebaiknya saya geluti. Karna saya ingin kuliah saya tetap nomor 1, karena orang tua mengharapkan kuliah cepat selesai dengan waktu secepatnya dengan nilai yang terbaik sekaligus memiliki usaha yang mapan sebelum kuliah selesai.

Akhir kata, besar harapan saya agar kedua-duanya tercapai dan berjalan sesuai dengan rencana. Sejujurnya rencana untuk berbisnis sambil kuliah orang tua tidak menyetujui. Atas jawabannya saya ucapkan terima kasih. Wassalam


***************



Jawaban :

Kuliah sambil berbisnis, memang sebuah kalimat yang cukup indah, seindah tantangan yang harus dihadapinya. Mengapa? Karena kedua-duanya membutuhkan ketekunan, keuletan dan manajemen waktu yang baik.

Itulah mungkin yang dapat dipahami bilamana terdapat keberatan dari orang tua Anda, karena bila salah langkah dalam penerapannya bukan hanya satu yang akan terkalahkan namun dapat pula kedua-duanya tidak Anda dapatkan.

Cobalah Anda berpikir ulang, di antara bisnis dan kuliah, mana yang menjadi prioritas Anda? Seberapa penting bisnis bagi kuliah Anda? Apa pengalaman bisnis apa yang telah Anda lakukan?

Melihat bahwa bisnis yang Anda rencanakan belum menjadi bagian yang urgent khususnya dalam proses kuliah Anda, ada baiknya Anda menundanya hingga kuliah Anda selesai.
Kalaupun ada peluang Anda untuk berbisnis, carilah bisnis-bisnis yang sifatnya insidental atau sampingan. Usaha yang tidak memakan waktu kuliah Anda, tidak mengganggu keuangan serta tidak mengganggu prioritas pertama Anda yakni Kuliah. Jadikan usaha ini hanya sebagai proses belajar untuk usaha yang lebih serius.

Tiada salahnya harapan orang tua kita wujudkan sebagai bukti rasa bakti kita terhdap orang yang telah merawat kita dari kecil. Dan bukankah keinginannya juga semata-mata untuk kebaikan kita juga?

Wallahu'alam


Satria Hadi Lubis
Source : EraMuslim

Bingung Pemilihan Jurusan

Permasalahan :

Saya Peter anak remaja berusia 16 tahun. Saat ini, saya bersekolah di SMU Negeri di salah satu kota X. Sekolah saya sangat terkenal karena sekolah saya RSBI yang dimana di kota saya hanya sekolah saya yang bergelar RSBI. Di lingkungan saya, saya terkenal anak yang rajin karena hanya dua orang anak di lingkungan saya saja yang dapat masuk di sekolah itu yaitu saya dan teman saya. Oleh karena itu, saya menjadi kebanggaan kedua orang tua saya.

Yang saya permasalahkan, sebentar lagi ada program penjurusan IPA atau IPS. Saya konsultasi dengan kedua orang tua saya, saya harus masuk ke IPA kata mereka. Tetapi, saya melihat dari nilai ulangan harian saya, nilai IPA saya pas-pasan dan nilai IPS saya cukup dibilang bagus. Saya berpikir apakah saya harus masuk IPS? tetapi kedua orang tua saya tidak mengizinkan. Juga saya ingin membanggakan kedua orang tua saya apabila saya dapat masuk IPA karena di sekolah saya, yang paling terkenal adalah jurusan IPA. Juga ada anggapan kalau bersekolah di sekolah saya masuk IPS itu rugi.

Saya menjadi bingung karena nanti jika saya masuk IPS, orang tua saya kecewa dan saya merasa tidak enak di lingkungan saya, yang tlah mengecap saya sebagai anak rajin. sedangkan jika saya masuk IPA, saya takut tidak bisa mengikuti dan nilai saya selalu jeblok. Bisakah membantu saya program apa yang saya harus pilih? Tolong bantu saya karena saya tidak dapat berhenti memikirkan hal tersebut.


***************




Jawaban :

Wah senangnya ya menjadi kebanggaan orangtua. Kami disini juga bangga karena Peter bisa bertanggungjawab dengan masa depan Peter sendiri, buktinya Peter mau mencari tahu mana yang terbaik untuk masa depan Peter. Memang di mata banyak orang, penjurusan IPA lebih tinggi prestisenya dari IPS, maklumlah banyak sekali pekerjaan-pekerjaan yang bergengsi di masyarakat yang mensyaratkan jurusan IPA. Akan tetapi, kesuksesan tidak ditentukan oleh jurusan yang diambil, melainkan oleh seberapa jauh seseorang berkomitmen pada pekerjaannya, minatnya, serta pada kemampuan dan karakter yang dimilikinya. Tidak bisa dilepaskan juga dukungan dari keluarga, karena merekalah yang nantinya akan membiayai Peter jika Peter akan kuliah. Lagi pula, Peter juga akan merasa lebih enak menjalani kehidupan jika tidak bertentangan dengan orangtua, bukan?!

Nah, pertanyaannya, apakah Peter sudah paham benar dengan minat yang Peter miliki, kemampuan yang dipunyai, dan karakter pribadi Peter? Soal minat, tentu Peter yang paling tahu dengan diri Peter sendiri. Soal kemampuan? Peter pun tahu dengan kemampuan Peter sendiri (Nilai Raport tidak selalu bisa menjadi patokan. Lebih penting adalah seberapa jauh Peter merasa enjoy pada sebuah mata pelajaran dan lalu sebarapa jauh merasa mampu menguasainya). Soal karakter pun demikian, Peter-lah orang yang paling tahu dengan semua hal dalam diri Peter. Namun demikian, boleh jadi Peter belum paham benar bagaimana caranya mengetahui semua hal-hal itu dalam diri Peter. Untuk itulah peran psikolog pendidikan, bisa membantu. Peter bisa berkonsultasi dengan mereka dan kemudian memutuskan mana yang terbaik untuk Peter.

Wah, nggak ada psikolog tuh? Tak mengapa. Kami percaya Peter bisa dan sanggup menentukan yang terbaik untuk Peter sendiri. Pertimbangkan saja minat, kemampuan, dan permintaan orangtua. Pertimbangkan juga bahwa lebih banyak pilihan bagi anak IPA untuk kuliah, karena mereka bisa masuk jurusan IPA dan IPS di Perguruan Tinggi. Anak IPS pun sebenarnya bisa masuk jurusan IPA di Perguruan Tinggi, hanya saja butuh usaha lebih keras untuk bisa lolos karena saat SMA belum terbiasa dengan mata pelajaran IPA.

Saran kami, masuk IPA saja. Soal nanti mau masuk ke jurusan sosial, bisa dipilih saat mau kuliah. Boleh jadi kan, saat ini Peter hanya masih bingung dengan minat yang dimiliki. Apalagi orangtua pun menghendaki Peter masuk IPA. Tapi jika Peter memang yakin bahwa dalam hal pelajaran IPA tidak bisa menikmati plus merasa sangat kesulitan menguasai, sebaliknya merasa enak di mata pelajaran IPS, maka IPS bisa dipilih.



Source : Tim psikologi-online.com

Merencanakan Bisnis Sambil Kuliah

Permasalahan :
Perkenalkan, saya herman mahasiswa yang sekarang insya 4JJI akan masuk disalah satu perguruan tinggi negri di Yogyakarta. Mengingat biaya kuliah yang cukup mahal, maka saya ingin mendapatkan arahan kepada bapak yang kira-kira model bisnis yang seperti apa yang sebaiknya saya geluti. Karna saya ingin kuliah saya tetap nomor 1, karena orang tua mengharapkan kuliah cepat selesai dengan waktu secepatnya dengan nilai yang terbaik sekaligus memiliki usaha yang mapan sebelum kuliah selesai.
Akhir kata, besar harapan saya agar kedua-duanya tercapai dan berjalan sesuai dengan rencana. Sejujurnya rencana untuk berbisnis sambil kuliah orang tua tidak menyetujui. Atas jawabannya saya ucapkan terima kasih. Wassalam
***************
Jawaban :
Kuliah sambil berbisnis, memang sebuah kalimat yang cukup indah, seindah tantangan yang harus dihadapinya. Mengapa? Karena kedua-duanya membutuhkan ketekunan, keuletan dan manajemen waktu yang baik.
Itulah mungkin yang dapat dipahami bilamana terdapat keberatan dari orang tua Anda, karena bila salah langkah dalam penerapannya bukan hanya satu yang akan terkalahkan namun dapat pula kedua-duanya tidak Anda dapatkan.
Cobalah Anda berpikir ulang, di antara bisnis dan kuliah, mana yang menjadi prioritas Anda? Seberapa penting bisnis bagi kuliah Anda? Apa pengalaman bisnis apa yang telah Anda lakukan?
Melihat bahwa bisnis yang Anda rencanakan belum menjadi bagian yang urgent khususnya dalam proses kuliah Anda, ada baiknya Anda menundanya hingga kuliah Anda selesai.
Kalaupun ada peluang Anda untuk berbisnis, carilah bisnis-bisnis yang sifatnya insidental atau sampingan. Usaha yang tidak memakan waktu kuliah Anda, tidak mengganggu keuangan serta tidak mengganggu prioritas pertama Anda yakni Kuliah. Jadikan usaha ini hanya sebagai proses belajar untuk usaha yang lebih serius.
Tiada salahnya harapan orang tua kita wujudkan sebagai bukti rasa bakti kita terhdap orang yang telah merawat kita dari kecil. Dan bukankah keinginannya juga semata-mata untuk kebaikan kita juga?
Wallahu'alam
Satria Hadi Lubis
Sumber : EraMuslim

Bingung Memilih Jurusan Pendidikan

Permasalahan:

Saya baru saja lulus SMU tahun ini. Saya sedang bingung memilih jurusan yang akan saya masuki di jenjang perguruan tinggi. Saya dari jurusan IPA di sebuah sekolah swasta unggulan terbaik di Jakarta. Sejak SD sampai SMP, peringkat saya selalu satu. Di SMU, karena saingannya ketat, prestasi saya sedikit menurun. Tetapi di kelas I dan II saya masih masuk enam besar. Hanya saja, ketika masuk ke jurusan IPA, nilai saya turun, Bu. Di cawu I dan II, nilai matematika saya 5, tetapi saya berhasil memperbaikinya menjadi 7 di cawu III.

Sebenarnya saya mempunyai minat di beberapa bidang. Sebut saja arsitektur (saya pandai menggambar) dan komunikasi. Saya ingin menjadi seorang arsitek seperti Papa saya. Tetapi melihat nilai matematika dan fisika saya yang pas-pasan, saya menjadi kurang pede, Bu. Di lain pihak, Papa saya ingin saya melanjutkan studi ke Singapura mengingat mutu yang bagus dan jarak yang cukup dekat. Beberapa waktu lalu, saya mendaftar di salah satu Universitas bergengsi di Singapura untuk jurusan arsitektur. Setelah hasil NEM diterima, ternyata nilai saya kurang sedikit untuk memenuhi persyaratan di Universitas itu, yang membuat nilai saya kurang lagi-lagi matematika dan fisika. Sedang mata pelajaran lain di atas 8, bahkan 9.

Tadinya Papa sangat menginginkan saya studi arsitektur, tetapi melihat NEM saya, beliau berubah pikiran dan mengatakan terserah saya. Saat ini saya mulai berpikir untuk studi komunikasi. Kata orang, saya ini pandai berdiplomasi, berbicara dan melobi. Bahkan saya sering menjadi juara debat baik bahasa indonesia maupun bahasa inggris.

Bu, saya bersyukur dan puji Tuhan bahwa saya mempunyai bakat dan Papa saya mempunyai dana untuk membiayai saya studi ke luar negeri. Tetapi ada beberapa hal yang masih mengganjal dan membuat saya bingung. Pertanyaan saya, apa saya harus mengambil studi arsitektur dan belajar lebih keras lagi. Kalau saya tidak diterima tahun ini, apa saya perlu mengulang SMU kelas tiga di Singapura, seperti saran Papa saya?
Dapatkah Ibu jelaskan tentang studi komunikasi, cakupannya dan prospeknya? Jurusan hubungan internasional itu seperti apa, Bu?
Di mana saya bisa melakukan tes bakat? Jawaban Ibu akan sangat membantu saya.

***************



Jawaban:

Hi there someone!
Hi there someone! Sepertinya Anda bingung ya, menetapkan masa depan, apakah berdasarkan saran orang lain (orangtua yang menyarankan memilih Jurusan arsitektur) atau mengikuti bakat yang Anda sudah ketahui yaitu dalam bidang berdiplomasi, berbicara dan melobi (Jurusan Komunikasi).

Pada dasarnya, seseorang akan merasakan keberhasilan hidup apabila ia bahagia dan menyenangi apa yang dikerjakan. Dengan perkataan lain, motivasi sangat penting untuk tercapainya keberhasilan dalam hidup. Anda sudah mencoba untuk mengetahui kemampuan dalam ilmu pasti dengan mengikuti tes di Singapura dan ternyata memang masih belum memenuhi kriteria. Saya kira kriteria di Singapura cukup memenuhi standar sehingga di manapun akan mengalami hasil penilaian yang sama.

Sekarang tanyalah pada diri Anda, apakah Anda ingin menjadi seorang arsitektur karena memang benar-benar senang menggambar dan melihat buku-buku mengenai bangunan rumah dan sebagainya? Ataukah minat Anda jika masuk ke toko buku adalah terhadap buku-buku kepemimpinan dialog antar kelompok, hubungan dengan negara lain dan sebagainya?

Jika Anda menjawab ya untuk pertanyaan yang terakhir, berarti minat/motivasi Anda adalah lebih pada bidang komunikasi atau hubungan intenasional (untuk mengetahui lebih lanjut tentang kedua bidang ini carilah di website). Yang akan menjalankan kehidupan Anda dimasa yang akan datang adalah Anda. Jadi sebaiknya mengikuti selera dan minat Anda dan bukan pilihan orang lain. Bila saudara-saudara sekandung belum ada yang meneruskan bakat ayah, mungkin di generasi cucu (ingat hukum Mendel) akan lahir arsitektur yang lebih hebat lagi. Semoga sukses di masa depan!

Pamugari Widyastuti, Staf Bagian Klinis & Konseling, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Sumber : Kompas Cybers Media

Beberapa Upaya Orang tua Mengikuti Perkembangan Anak

Orang tua diharapkan mengetahui dan mengikuti tahap-tahap perkembangannya. Hal ini penting agar anak bisa tumbuh secara optimal. Untuk itu secara umum yang sebaiknya dilakukan oleh para orang tua antara lain :
  • Mencari informasi agar bisa lebih memahami perkembangan anak secara mendalam.
  • Memberi anak stimulasi yang cukup agar bisa berkembang optimal.
  • Jangan terlalu overprotektif. Beri anak kesempatan. "Kalau memang ia harus jatuh, biarkan. Tentu ini harus didukung lingkungan yang aman. Boleh belajar naik sepeda, tapi tentu tidak di jalan raya yang ramai kendaraan misalnya." Intinya, siapkan lingkungan yang mendukung bagi anak.
  • Jangan bosan memberikan dukungan atau penghargaan, apa pun bentuknya, karena ini akan membuat anak merasa dihargai. Penghargaan bisa dengan pujian, belaian, pelukan, dan sebagainya.

Sense of Humor Meringankan Beban Hidup


Hari ini seorang teman mengirim joke yang membuatku merasa geli dan lucu. Sebuah potongan koran harian dengan nama yang tidak begitu jelas "Psikologi P" mampir ke email. Judul berita dan isi mirip sekali dengan artikel yang dimuat di blog konsultasi psikologi ini, "Mengajarkan Anak Menjawab Pertanyaan Apa, Siapa, Kapan, Dimana dan Mengapa".

Humor sederhana memang perlu untuk sejenak meringankan beban hidup, pikiran jadi segar kembali. Humor tak disadari dapat memberikan energi yang luar biasa pada diri Kita.

Pentingnya Humor
Sense of humor merupakan salah satu unsur yang penting dalam banyak hal Dari sejumlah literature dijelaskan bahwa sense of humor ini sangat membantu dalam menciptakan suasana harmonis dan hangat dalam keluarga. Banyak keluarga saat ini dihadapkan kepada situasi sulit yang mungkin belum pernah dirasakan sebelumnya, tetapi jika suasana humor selalu ada dalam keluarga tersebut, hal itu dapat diredam dan tidak tenggelam dalam masalah.

Dalam konteks pembelajaran di kelas, kelas menjadi "hidup", keadaan siswa yang semula letih, lesu, tidak bersemangat, mengantuk dapat menjadi bergairah kembali sehingga siswa dapat belajar dengan lebih baik serta dapat meringankan beban berat siswa yang bermasalah.

Lewat humor, orang akan bergembira, senang, tertawa, merasa puas, merasa bebas dari perasaan yang mencekam. Dengan humor, orang akan memperoleh suasana yang lebih segar dan membebaskan.

Buku Sekolah Elektronik

Buku merupakan cakrawala dunia, seringkali kita mendengar semboyan tersebut. Bahkan tidak jarang disampaikan bahwa buku merupakan indikator ilmu yang dimiliki, semakin banyak buku yang kita baca maka semakin banyak pula ilmu yang kita miliki. Singkatnya, buku merupakan gudang ilmu, sarana paling penting yang menyokong penigkatan mutu pendidikan.

Di era globalisasi ini, buku dituntut memiliki isi yang berstandar nasional pendidikan. Namun, pada kenyataannya buku yang menjadi hal terpenting dalam pendidikan justru menjadi hal yang sulit dijangkau dari tingkat harganya. Untuk tingkat sekolah dasar saja, masing-masing anak diwajibkan membeli belasan buku dengan harga yang mencapai ratusan ribu. Dilatarbelakangi hal tersebut, Departemen Pendidikan Nasional membeli hak cipta buku teks pelajaran dari beberapa penerbit atau penulis lalu selanjutnya buku-buku tersebut diasjikan dalan bentuk buku elektronik(e-book) yang dinamakan BSE (Buku Sekolah Elektronik).

Buku-buku teks pelajaran yang telah dimiliki hak ciptanya oleh Depdiknas ini dapat digandakan, dicetak, difotokopi, dialihmediakan, dan/ atau diperdagangkan oleh perseorangan, kelompok orang, dan/atau badan hukum dalam rangka menjamin akses dan harga buku yang terjangkau oleh masyarakat. Masyarakat dapat pula mengunduh (down load) langsung dari internet. Untuk mengunduh (down load) langsung BSE Diknas, klik disini.

Selamat belajar meraih ilmu, pengetahuan, dan teknologi untuk kemandirian dan kemajuan bangsa.

Wilayah Terapan Psikologi

Wilayah terapan psikologi adalah wilayah-wilayah dimana kajian psikologi dapat diterapkan. walaupun demikian, belum terbiasanya orang-orang Indonesia dengan spesialisasi membuat wilayah terapan ini rancu, misalnya, seorang ahli psikologi pendidikan mungkin saja bekerja pada HRD sebuah perusahaan, atau sebaliknya.

Psikologi pendidikan
Psikologi pendidikan adalah perkembangan dari psikologi perkembangan dan psikologi sosial, sehingga hampir sebagian besar teori-teori dalam psikologi perkembangan dan psikologi sosial digunakan di psikologi pendidikan. Psikologi pendidikan mempelajari bagaimana manusia belajar dalam setting pendidikan, keefektifan sebuah pengajaran, cara mengajar, dan pengelolaan organisasi sekolah.

Psikologi sekolah
Psikologi sekolah berusaha menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik dalam mengembangkan kemampuan akademik, sosialisasi, dan emosi.

Psikologi industri dan organisasi
Psikologi industri memfokuskan pada menggembangan, mengevaluasi dan memprediksi kinerja suatu pekerjaan yang dikerjakan oleh individu, sedangkan psikologi organisasi mempelajari bagaimana suatu organisasi memengaruhi dan berinteraksi dengan anggota-anggotanya.

Psikologi kerekayasaan
Penerapan psikologi yang berkaitan dengan interaksi antara manusia dan mesin untuk meminimalisasikan kesalahan manusia ketika berhubungan dengan mesin (human error).

Psikologi klinis
Adalah bidang studi psikologi dan juga penerapan psikologi dalam memahami, mencegah dan memulihkan keadaan psikologis individu ke ambang normal.

Parapsikologi
Parapsikologi adalah cabang psikologi yang mencakup studi tentang extra sensory perception, psikokinesis, dan sebagainya. Bagi para pendukungnya, parapsikologi dilihat sebagai bagian dari psikologi positif dan psikologi transpersonal. Penelitian parapsikologi pada umumnya dilakukan di laboratorium sehingga parapsikolog menganggap penelitian tersebut ilmiah. Kritisisme terhadap parapsikologi dan dukungan terhadap parapsikologi dari American Association for the Advancement of Science terhadap affiliasinya yaitu Parapsychological Association

Kajian Psikologi

Psikologi adalah ilmu yang luas dan ambisius, dilengkapi oleh biologi dan ilmu saraf pada perbatasannya dengan ilmu alam dan dilengkapi oleh sosiologi dan anthropologi pada perbatasannya dengan ilmu sosial. Beberapa kajian ilmu psikologi diantaranya adalah:

Psikologi perkembangan
Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari perkembangan manusia dan faktor-faktor yang membentuk prilaku seseorang sejak lahir sampai lanjut usia. Psikologi perkembangan berkaitan erat dengan psikologi sosial, karena sebagian besar perkembangan terjadi dalam konteks adanya interaksi sosial. Dan juga berkaitan erat dengan psikologi kepribadian, karena perkembangan individu dapat membentuk kepribadian khas dari individu tersebut.

Psikologi sosial
bidang ini mempunyai 3 ruang lingkup, yaitu :
1. studi tentang pengaruh sosial terhadap proses individu, misalnya : studi tentang persepsi, motivasi proses belajar, atribusi (sifat)
2. studi tentang proses-proses individual bersama, seperti bahasa, sikap sosial, perilaku meniru dan lain-lain
3. studi tentang interaksi kelompok, misalnya : kepemimpinan, komunikasi hubungan kekuasaan, kerjasama dalam kelompok, persaingan, konflik

Psikologi kepribadian
Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari tingkah laku manusia dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya, psikologi kepribadian berkaitan erat dengan psikologi perkembangan dan psikologi sosial, karena kepribadian adalah hasil dari perkembangan individu sejak masih kecil dan bagaimana cara individu itu sendiri dalam berinteraksi sosial dengan lingkungannya.

Psikologi kognitif
Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari kemampuan kognisi, seperti: Persepsi, proses belajar, kemampuan memori, atensi, kemampuan bahasa dan emosi.

Pendekatan Psikologi

Tingkah laku dapat dijelaskan dengan cara yang berbeda-beda, dalam psikologi sedikitnya ada 5 cara pendekatan, yaitu

Pendekatan neurobiologis
Tingkah laku manusia pada dasarnya dikendalikan oleh aktivitas otak dan sistem syaraf. Pendekatan neurobiologis berupaya mengaitkan perilaku yang terlihat dengan impuls listrik dan kimia yang terjadi didalam tubuh serta menentukan proses neurobiologi yang mendasari perilaku dan proses mental.

Pendekatan perilaku
Menurut pendekatan perilaku, pada dasarnya tingkah laku adalah respon atas stimulus yang datang. Secara sederhana dapat digambarkan dalam model S - R atau suatu kaitan Stimulus - Respon. Ini berarti tingkah laku itu seperti reflek tanpa kerja mental sama sekali. Pendekatan ini dipelopori oleh J.B. Watson kemudian dikembangkan oleh banyak ahli, seperti B.F.Skinner, dan melahirkan banyak sub-aliran.

Pendekatan kognitif
Pendekatan kognitif menekankan bahwa tingkah laku adalah proses mental, dimana individu (organisme) aktif dalam menangkap, menilai, membandingkan, dan menanggapi stimulus sebelum melakukan reaksi. Individu menerima stimulus lalu melakukan proses mental sebelum memberikan reaksi atas stimulus yang datang.

Pendekatan psikoanalisa
Pendekatan psikoanalisa dikembangkan oleh Sigmund Freud. Ia meyakini bahwa kehidupan individu sebagian besar dikuasai oleh alam bawah sadar. Sehingga tingkah laku banyak didasari oleh hal-hal yang tidak disadari, seperti keinginan, impuls, atau dorongan. Keinginan atau dorongan yang ditekan akan tetap hidup dalam alam bawah sadar dan sewaktu-waktu akan menuntut untuk dipuaskan.

Pendekatan fenomenologi
Pendekatan fenomenologi ini lebih memperhatikan pada pengalaman subyektif individu karena itu tingkah laku sangat dipengaruhi oleh pandangan individu terhadap diri dan dunianya, konsep tentang dirinya, harga dirinya dan segala hal yang menyangkut kesadaran atau aktualisasi dirinya. Ini berarti melihat tingkah laku seseorang selalu dikaitkan dengan fenomena tentang dirinya.

Asal Mula Psikologi

Psikologi (dari bahasa Yunani Kuno: psyche = jiwa dan logos = kata) dalam arti bebas psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa/mental. Psikologi tidak mempelajari jiwa/mental itu secara langsung karena sifatnya yang abstrak, tetapi psikologi membatasi pada manifestasi dan ekspresi dari jiwa/mental tersebut yakni berupa tingkah laku dan proses atau kegiatannya, sehingga Psikologi dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses mental.

Psikologi sebagai ilmu pengetahuan
Walaupun sejak dulu telah ada pemikiran tentang ilmu yang mempelajari manusia dalam kurun waktu bersamaan dengan adanya pemikiran tentang ilmu yang mempelajari alam, akan tetapi karena kekompleksan dan kedinamisan manusia untuk dipahami, maka psikologi baru tercipta sebagai ilmu sejak akhir 1800-an yaitu sewaktu Wilhem Wundt mendirikan laboratorium psikologi pertama didunia.

Fungsi psikologi sebagai ilmu
Psikologi memiliki tiga fungsi sebagai ilmu yaitu:

Menjelaskan
Yaitu mampu menjelaskan apa, bagaimana, dan mengapa tingkah laku itu terjadi. Hasilnya penjelasan berupa deskripsi atau bahasan yang bersifat deskriptif.

Memprediksikan
Yaitu mampu meramalkan atau memprediksikan apa, bagaimana, dan mengapa tingkah laku itu terjadi. Hasil prediksi berupa prognosa, prediksi atau estimasi.

Pengendalian
Yaitu mengendalikan tingkah laku sesuai dengan yang diharapkan. Perwujudannya berupa tindakan yang sifatnya prevensi atau pencegahan, intervesi atau treatment serta rehabilitasi atau perawatan.
Blog Widget by LinkWithin